• You are here: 
  • Home

MUHAMMAD (S.A.W.) NABI CINTA

Oleh: Haidar Bagir

Dan oleh kasih Tuhanmu kamu pun (Muhammad) bersikap lemah-lembut kepada mereka
(QS 3:159)

Demikian Tuhan sendiri menggambarkan sifat-utama pesuruhnya. Bukan hanya itu, di dalam kitab-suci-Nya Dia kabarkan:


Telah datang padamu seorang Pesuruh dari
(kalangan) dirimu sendiri. Dia merasa berat atas apa-apa yang menimpamu, sangat menginginkan (kesejahteraan)-mu, dan kepada orang-orang beriman dia amatlah penyantun dan penyayang. (QS 9:128)

Kiranya, semua sifat penuh kasih dan kelembutan itu adalah suatu kenyataan logis mengingat Tuannya Muhammad s.a.w. itu telah berfirman bahwa, ia (Muhammad) tak disuruh kecuali untuk menebarkan kasih bagi alam dan segenap penghuninya (QS 21:107). Ia adalah utusan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, ia adalah suruhan Penopang dan Pemelihara alam keseluruhan.Suatu kali sahabatnya mendengar ia berkata: ”Orang-orang yang saling mencinta karena mengakui Kebesaran-Nya, hidupnya akan penuh cahaya, sehingga bahkan para nabi dan syuhada iri kepadanya.” Memang, ”tak akan masuk surga … kecuali kalian saling mencinta,” begitu dinasihatkannya.

Biografinya penuh dengan kisah-kisah fantastis yang mendemonstrasikan sifat penuh cinta-kasih seperti itu. Juga kepada anak-anak. Dia dikenal tak tahan mendengar tangis anak-anak; sebaliknya, orang melihatnya senang menggendong dan memboncengkan mereka di atas untanya. Dia senang menciumi anak-anak sehingga, ketika seorang badui mengecamnya karena mempertunjukkan sikap yang katanya kurang ”laki-laki”, dengan agak kesal dia menukas: ”Siapa yang tidak mengasihi tak akan dikasihi.”Keprihatinannya terhadap nasib para janda juga sudah merupakan bahan standar dalam uraian-biografisnya. Dia jadikan upaya mengurusi kaum yang lemah ini sebagai insentif untuk meraih surga, sebagaimana menyantuni anak yatim adalah bukti integritas keagamaan seseorang. Yang tak pernah dia lupakan, kapan saja ia bertemu anak-anak tanpa ibu-bapa ini, adalah mengusap-usap kepala mereka. Katanya: ”Orang yang menyantuni anak yatim akan bersamaku di surga, seperti jari telunjuk dan jari tengah.”


Berkiprah di tengah-tengah kaum dhu’afa, belajar dari Nabi ini, adalah tak kurang daripada perjalanan spiritual untuk menemui-Nya. Katanya: ”Temui (Dia) di tengah-tengah mereka.”
Meski perbudakan adalah sesuatu yang lazim di masanya, perlakuan Muhammad s.a.w. kepada mereka tak beda dengan terhadap manusia merdeka.
Seorang budak perempuan yang bersedih karena menghilangkan uang belanja majikannya membuatnya mau menunda aktivitasnya. Digantinya uang yang hilang, diantarnya si budak ke pasar untuk membeli barang suruhan majikannya, dan ditemaninya pulang ke rumah demi menghindarkan kemarahan sang tuan akibat keterlambatan yang lama. Begitu baiknya ia kepada budaknya sendiri, Zaid ibn Haritsah, sehingga sang budak tetap memilih tinggal bersamanya bahkan ketika ia hendak diserahkan kembali kepada orangtuanya sebagai manusia merdeka. Kata sang budak, sepanjang hidupnya Muhammad tak pernah menunjukkan kekesalan kepadanya.

Rasa pemaafnya nyaris tanpa batas. Dia menjenguk musuh yang terus menghina dan menyiraminya dengan kotoran ketika si musuh didapatinya terbaring sakit. Dia menyuapi Yahudi tunanetra yang setiap hari mencacinya. Dan dia memberikan amnesti tanpa syarat kepada kaum penindas Makkah yang telah berupaya menyengsarakan hidupnya, justru ketika dia bisa melakukan apa saja setelah menaklukkan mereka. Ketika Jibril bertanya, apakah Nabi mau agar ia (Jibril) jatuhkan gunung kepada orang-orang yang menganiayanya di Tha’if, dia malah memintakan ampun atas merka. ”Karena mereka tidak mengerti,” katanya.

Tak hanya ketika di dunia saja Muhammad mempersembahkan hidupnya untuk manusia. Di ranjang-kematiannya, kata-kata yang terus terucap adalah: ”Umatkuumatku ….” Bahkan, dikabarkan bahwa, kelak di padang mahsyar sana, ketika semua orang bukan alang-kepalang kebingungan dan ketakutan, ketika ibu-ibu pun melupakan anak-anaknya karena dahsyat dan mencekamnya suasana, yang dia lakukan adalah memanggil semua orang – termasuk para pendosa: ”Halumma … halumma … (Kemarilahkemarilah …). Biar aku berikan syafa’atku kepadamu, agar Tuhan mengampuni dosa-dosamu.”

Begitu kasihnya Muhammad pada manusia sehingga dia katakan bahwa Tuhannya ada bersama orang-orang lemah, orang-orang yang hancur hatinya, orang-orang lapar, orang-orang yang terasing dan kesepian, dan orang-orang sakit. Bahkan, tak ada Islam yang lebih utama ketimbang menyantuni mereka.

”Apakah Islam yang paling baik itu?” ia ditanya.

Islam yang paling baik adalah memberi makan orang yang lapar dan menebarkan kedamaian di tengah orang-orang yang kau kenal maupun yang asing,” jawabnya.
Suatu kali ia pun mengajar kita: ”Barangsiapa menyayangi apa-apa yang ada di bumi, dia akan disayangi Yang di Langit.”

Kedermawanan-hatinya tak mengecualikan manusia, bahkan makhluk lain yang bukan manusia. Sudah terkenal perintahnya agar manusia tak merusak tetumbuhan, meskipun dalam kecamuk perang. Pernah dia kabarkan pula ihwal seorang pelacur yang diampuni dosa-dosa-kejinya hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Hingga sabdanya: ”Dalam setiap (makhluk) yang di dalamnya melata kehidupan, ada ganjaran.”Kepada orang kafir pun tak kurang-kurang ia luapkan kedermawanan hatinya. Setidaknya ini kisah Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi-nya :

Seorang kafir mengunjungi Nabi, dan Nabi pun menjamunya. Sebagaimana kebiasaan orang-orang yang hanya percaya dunia, dia makan dengan ”tujuh perut”-nya. Tapi bukan itu saja. Setelah mengenyangkan dirinya, dia berbaring di ruang tamu, dan mengotori kain linen, milik Nabi, tempatnya berbaring. Malah akhirnya dia menyelinap keluar rumah begitu saja sebelum fajar menjelang. Ketika ia terpaksa kembali untuk mengambil barangnya yang tak sengaja tertinggal di rumah Nabi, didapatinya manusia mulia ini sedang mencuci kain linen itu dengan tangannya sendiri, tanpa sedikit pun menunjukkan kekesalan kepada si kafir.

Memang, tak ada yang bisa ragu, Muhammad s.a.w. menjadikan jalan terpendek untuk bertemu Tuhan kita, tidak pada sekadar ibadah ritual belaka, bahkan tidak pada latihan-latihan mistik individual saja, melainkan pada besarnya cinta kita. Cinta kepada Tuhan Sang Maha Cinta, dan cinta pada sesama manusia.

Inilah spiritualitas yang sesungguhnya. Inilah tasawuf, sejatinya.

Doa dan keselamatan atasmu, wahai al-Musthafa!

(Dikutip dari Majalah Madina, no.3, 2008)

 


APA KATA NON-MUSLIM TENTANG MUHAMMAD S.A.W.

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi…
(QS 33 al-Ahzab:40)

Ya Allah, curahkan shalawat atas junjungan kami Muhammad dan keluaganya.

Berikut ini adalah kumpulan cuplikan pendek dari berbagai tokoh terkemuka non-Muslim dari kalangan sarjana, penulis, filosof, penyair, politisi, dan aktifis di dunia Timur dan Barat. Perlu diketahui bahwa, tak seorang pun di antara mereka yang kemudian menjadi Muslim. Karena itu, kalimat-kalimat yang dicuplik di bawah ini merefleksikan pandangan pribadi mereka atas berbagai aspek kehidupan Nabi Muhammad s.a.w.

Michael H. Hart (1932- )
Profesor astronomi, fisika dan sejarah sains

“Pilihan saya menempatkan Muhammad di urutan teratas dalam daftar orang-orang yang paling berpengaruh di dunia boleh jadi mengejutkan para pembaca dan dipertanyakan oleh banyak orang, tetapi dia (Muhammad) adalah satu-satunya manusia dalam sejarah yang sangat berhasil dalam dua tataran sekaligus, agama (ukhrawi) dan sekular (duniawi).”
[The 100: A Ranking Of The Most Influential Persons In History, New York, 1978, h. 33]

William Montgomery Watt (1909- )
Profesor (Emeritus) Studi Bahasa Arab dan Islam di University of Edinburgh

“Kerelaannya dalam mengalami penganiayaan demi keyakinannya, ketinggian akhlak orang-orang yang mempercayainya dan menghormatinya sebagai pemimpin, dan kegemilangan prestasi puncaknya —semua itu membuktikan ketulusan hatinya yang sempurna. Tetapi kenyataannya, tak seorang tokoh besar pun dalam sejarah yang sangat kurang dihargai di dunia Barat seperti Muhammad. Menganggap Muhammad sebagai seorang penipu akan menimbulkan lebih banyak masalah ketimbang memecahkannya.”
[Mohammad At Mecca, Oxford, 1953, h. 52]

Alphonse de Lamartine (1790-1869)
Penyair dan negarawan Prancis

“Filosof, orator, utusan Tuhan, pembuat undang-undang, pejuang, penakluk pikiran, pembaru dogma-dogma rasional dan penyembahan kepada Tuhan yang tak terperikan; pendiri dua puluh kerajaan bumi dan satu kerajaan langit, dialah Muhammad. Berkaitan dengan semua norma yang menjadi tolak ukur kemuliaan manusia, kita boleh bertanya, adakah manusia yang lebih besar daripada dia?”
[Histoire De La Turquie, Paris, 1854, vol. II, h. 276-277]

Reverend Bosworth Smith (1794-1884)
Mantan pengawas Trinity College, Oxford

“… Dia Caesar sekaligus Paus; tetapi dia adalah Paus tanpa pangkat Paus dan Caesar tanpa pasukan Caesar. Tanpa tentara tetap, tanpa pengawal, tanpa istana, tanpa pendapatan tetap, jika pernah ada manusia yang memiliki hak untuk mengatakan bahwa dia diperintah oleh Tuhan Yang Maha Benar, dialah Muhammad; karena dia memiliki semua kekuasaan tanpa peralatan dan pendukung untuk itu.”
[Mohammed and Mohammedanism, London, 1874, p. 235]

Mohandas Karamchand Gandhi (1869-1948)
Pemikir, negarawan, dan pemimpin nasionalis India

“…. Saya semakin yakin bahwa bukanlah pedang yang menaklukkan sebuah daerah bagi Islam untuk hidup pada zaman itu. Kesederhanaan yang teguh, nabi yang sama sekali tidak menonjolkan-diri, kesetiaannya yang luar biasa kepada janjinya, kasih sayangnya yang amat besar kepada para sahabat dan pengikutnya, keberaniannya, kepercayaannya yang mutlak kepada Tuhan dan kepada misinya; inilah, dan bukan pedang, yang mengantarkan segala sesuatu di hadapan mereka dan mengatasi setiap masalah.”
[Young India (majalah), 1928, Volume X]

Edward Gibbon (1737-1794)
Dianggap sejarawan Inggris terbesar di zamannya

“Kesuksesan kehidupan Muhammad yang luar biasa disebabkan semata-mata oleh kekuatan akhlak tanpa pukulan pedang.”
[History Of The Saracen Empire, London, 1870]

John William Draper (1811-1882)
Ilmuwan, filosof, dan sejarawan Amerika

“Empat tahun setelah runtuhnya kekaisaran Roma Timur (Kaisar Justin), pada 569 Masehi, di kota Makkah, di jazirah Arab, lahirlah manusia yang di antara seluruh manusia telah memberikan pengaruh amat besar bagi umat manusia… Muhammad.”
[A History of the Intellectual Development of Europe, London, 1875, vol.1, h. 329-330]

David George Hogarth (1862-1927)
Ahli arkeologi Inggris, penulis, dan pengurus Museum Ashmolean, Oxford

“Tindak-tanduk kesehariannya, yang serius ataupun yang sepele, menjadi hukum yang ditaati dan ditiru secara sadar oleh jutaan orang masa kini. Tak seorang pun diperhatikan oleh golongan umat manusia mana pun seperti Manusia Sempurna ini yang diteladani secara saksama. Tingkah laku pendiri agama Kristen tidak begitu mempengaruhi kehidupan para pengikut-Nya. Selain itu, tak ada Pendiri suatu agama yang dikucilkan tetapi memperoleh kedudukan mulia seperti Rasul Islam.
[Arabia, Oxford, 1922, h. 52]

Washington Irving (1783-1859)
Terkenal sebagai “sastrawan Amerika pertama”

“Dia makan secara sederhana dan bebas dari minuman keras, serta sangat gemar berpuasa. Dia tidak menuruti nafsu bermewah-mewah dalam berpakaian, tidak pula ia menuruti pikiran yang sempit; kesederhaannya dalam berpakaian dilatarbelakangi oleh sikapnya yang tidak mempedulikan perbedaan dalam hal-hal yang sepele…. Dalam urusan pribadinya dia bersikap adil. Dia memperlakukan kawan dan orang asing, orang kaya dan orang miskin, orang kuat dan orang lemah, dengan cara yang adil. Dia dicintai oleh rakyat jelata karena dia menerima mereka dengan kebaikan hati dan mendengarkan keluhan-keluhan mereka…. Keberhasilan militernya bukanlah kemenangan yang sia-sia dan sekali-kali tidak membuatnya merasa bangga, karena tujuan semuanya itu bukan untuk kepentingan pribadinya. Ketika dia memiliki kekuasaan yang amat besar, ia tetap sederhana dalam sikap dan penampilannya, sama seperti ketika dia dalam keadaan sengsara. Sangat berbeda dengan seorang raja, dia tidak suka jika, ketika memasuki ruangan, orang menunjukkan penghormatan yang berlebihan kepadanya.”
[Life of Mahomet, London, 1889, h. 192-3, 199]

Annie Besant (1847-1933)
Teosof Inggris dan pemimpin nasionalis India, Presiden Kongres Nasional India pada 1917

“Siapa pun yang mempelajari kehidupan dan sifat Nabi besar dari jazirah Arabia ini, siapa pun yang mengetahui bagaimana ia mengajar dan bagaimana ia hidup, pasti memberikan rasa hormat kepada Nabi agung itu, salah seorang utusan Tuhan yang luar biasa. Dan meskipun dalam uraian saya kepada Anda akan tersebut banyak hal yang barangkali sudah biasa bagi kebanyakan orang, akan tetapi setiap kali saya membaca-ulang tentang dia, saya sendiri merasakan lagi kekaguman yang baru, menimbulkan lagi rasa hormat yang baru kepada guru bangsa Arab yang agung itu.”
[The Life and Teachings of Muhammad, Madras, 1932, h. 4]

Edward Gibbon (1737-1794)
Dianggap sejarawan besar Inggris di zamannya

“Memorinya (yakni, Muhammad) sangat besar dan kuat, sikapnya sederhana dan ramah, imajinasinya agung, keputusannya jelas, cepat, dan tegas. Dia memiliki keberanian berpikir maupun bertindak.”
[History of the Decline and Fall of the Roman Empire, London, 1838, vol.5, h.335]


Syafa’at Rasulullah Harapannya

Dengan hati tulus penuh cinta, Rabi`ah mengabdikan diri kepada Rasulullah s.a.w. Seharian, dari pagi hingga petang, ia terus-menerus berada di tempat Nabi s.a.w. berada; memenuhi kebutuhan beliau, melaksanakan apa saja yang dikehendaki oleh beliau dan keluarga. Bahkan setelah melaksanakan shalat ‘Isya sekalipun, ia tidak meninggalkan kediaman Nabi s.a.w. Kalau Nabi s.a.w. telah memasuki kamar istrinya, Rabi`ah tetap berjaga-jaga di situ, di depan pintu rumah Nabi s.a.w., khawatir kalau-kalau Nabi s.a.w. membutuhkannya di malam hari.

Rabi`ah pernah menuturkan pengalamannya, “Sampai tengah malam, aku masih saja mendengar munajat (“bisikan mesra”) Nabi s.a.w. kepada Tuhan, Sang Pencipta dan Penganugerah: ‘Subhaanallaah wal-hamdu lillaah….. —Mahasuci Engkau ya Allah, Maha Terpuji Engkau ya Allah’. Munajat itu terus terdengar olehku hingga aku benar-benar lelah dan pulang ke rumah, atau tertidur di situ.”

Nabi s.a.w. memperhatikan ketulusan hati dan kesetiaan bakti sahabatnya ini. Beliau ingin menunjukkan kepadanya, betapa beliau menghargai itu semua. Beliau ingin membalas kebaikannya itu dengan sesuatu yang benar-benar membuat sahabatnya gembira.

“Wahai Rabi`ah, mintalah dariku sesuatu, aku akan memberikannya kepadamu,” kata Nabi s.a.w. di suatu hari.

“Kalau begitu, wahai Rasul Allah, berilah aku waktu untuk berpikir. Aku akan me-nyampaikan kepada Anda apa yang aku harapkan dari Anda dalam kesempatan yang lain.”

Nabi s.a.w. menyambut baik gagasan tersebut. Rabi`ah pun kembali ke rumahnya. Pikirannya terus berkelana dalam renungan, Apa yang patut kuminta dari Nabi s.a.w.? Aku harus hati-hati dalam menentukan pilihan. Kesempatan yang istimewa ini tak boleh sia-sia. Kekayaan duniawikah yang kuminta, sedangkan aku tahu kefanaan jua akhirnya? Dan Allah Sendiri telah menjamin rizki setiap makhluk. Rizkiku pasti datang dan ia akan mencukupiku. Aku akan meminta dari Nabi s.a.w. sesuatu yang berkenaan dengan kehidupan akhirat yang abadi. Sesuatu yang luar biasa, dengan memanfaatkan kedudukan Nabi yang mulia dan khusus di sisi Allah SWT.

“Apa sudah kamu pikirkan, Rabi`ah?” tanya Nabi s.a.w. setelah kembali bertemu dan berduaan dengan sahabatnya itu.

“Benar wahai Rasul Allah, sudah kupikirkan dan kurenungkan. Yang kuinginkan ialah, Anda sudi memberiku syafa`at, memohonkan untukku kepada Allah agar sudi membebaskan dan menyelamatkanku dari neraka, serta aku diizinkan untuk boleh bersama dengan Anda di surga kelak.”

Mendengar permintaan Rabi’ah ini, Nabi s.a.w. tertegun sesaat; kemudian dengan cepat beliau bertanya:“Siapa yang menyuruhmu untuk menyampaikan permintaan tersebut?”

“Demi Yang telah Mengutusmu dengan segala kebenaran, tak seorang pun yang memberiku saran begitu. Aku sendirilah yang berpikir dan merenung, setelah mendapat tawaran istimewa dari Anda, wahai Rasul Allah. Aku menyadari kedudukan Anda yang istimewa di sisi Allah Yang Maha Kuasa. Haruskah kuminta darimu dunia, sedangkan kefanaan jua akhirnya? Apalagi Allah telah menjamin rizki para makhluk-Nya. Rizkiku pasti datang, dan pasti mencukupiku pula. Maka aku berkesimpulan, bahwa akhiratlah yang harus kudapatkan lewat Anda.”

Rasulullah s.a.w. kembali tertegun. Kali ini cukup lama beliau berdiam diri tanpa sepatah kata pun, tapi kemudian beliau berkata: “Aku pasti memenuhi permintaanmu, wahai Rabi’ah. Hanya saja bantulah aku dalam menanggulangi kekurangan-kekurangan yang ada padamu dengan cara engkau memperbanyak ibadah.”

Allah Maha Dermawan, tidak akan pernah mengecewakan hati yang benar-benar tulus dalam cinta. Demikian pula Rasul-Nya yang selalu berusaha meniru akhlak-Nya.


Doa Rasulullah yang Diharapkan

Harmalah ibn Zaid menerobos lingkaran para sahabat yang sedang mengelilingi Rasulullah s.a.w. Ia datang tiba-tiba dengan segala beban kerisauan yang terlihat di wajahnya. Ia langsung menghampiri Rasulullah dan duduk persis di hadapan beliau.

“Keimananku hanya bertumpu di sini wahai Rasul Allah.” Sambil berkata itu Harmalah mengarahkan telunjuknya ke lidahnya.“Sedangkan kemunafikan berakar di sini,” katanya kemudian, seraya menempelkan telapak tangannya ke dadanya. Ia lalu berkata lagi, “Hati ini, wahai Rasul Allah, tidak pernah mengingat Allah kecuali jarang-jarang. Bantulah aku hingga segera terbebas dari kerisauan yang terus membelengguku ini.”

Dengan lembut penuh empati Rasulullah s.a.w. menyimak dengan saksama keluhan dan pengaduan tamunya itu, namun beliau tetap tenang tanpa suara. Tak sepatah kata pun terucap dari mulut beliau yang mulia. Mungkin beliau ingin mendengarkan keluhan Harmalah ibn Zaid hingga tuntas, sebagai tanda orang itu benar-benar serius untuk bertaubat dari kemunafikan; dan ia benar-benar yakin bahwa beliaulah yang mampu memberinya rasa tentram. Ternyata Harmalah mengulangi sekali lagi keluhannya tersebut kepada Rasulullah s.a.w., dengan cara yang sama.

Kemudian Rasulullah s.a.w. —sambil memegang ujung lidah Harmalah— berkata dalam do’a:

“Duhai Tuhan Pemilik segala Sifat Maha Sempurna, anugerahkan dia lidah yang jujur, yang tiada berkata kecuali kebenaran; hati yang mampu menikmati kedermawanan-Mu dalam setiap kejadian, yang tiada berdetak kecuali dengan pujian kepada-Mu. Anugerahkanlah dia cinta kepadaku dan cinta kepada orang-orang yang mencintaiku. Dan jadikanlah semua persoalan hidupnya menuju kepada kebaikan.”

“Wahai Rasul Allah, aku memiliki teman-teman yang seluruhnya adalah munafik sepertiku. Aku selama ini diterima sebagai pemimpin mereka. Sudikah Anda jika kusebutkan tentang mereka satu per satu?” kata Harmalah kepada Rasulullah s.a.w.

“Tak perlu kamu melakukannya. Siapa saja di antara mereka yang datang kepadaku dengan penuh penyesalan, sebagaimana yang kamu lakukan ini, maka kami akan memintakan pengampunan dari Allah baginya, persis seperti yang sudah kami lakukan untuk kamu. Namun barangsiapa bersikukuh dalam kemunafikan, maka Allah jua yang paling berhak menyelesaikan persoalannya.”

Rasulullah s.a.w. merindukan kepulangan orang-orang yang berdosa tanpa perlu mencemarkan harga diri mereka.


Mahalnya Sebuah Keyakinan

Rasulullah s.a.w. sangat menghargai perasaan dan sikap tulus yang ditunjukkan oleh umatnya kepada beliau. Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. berminat membeli seekor kuda dari seorang Badui bernama Sawa` ibn Qais al-Muharibi, yang sedang menariknya menuju ke pasar Madinah. Tawar-menawar antara keduanya berlangsung, dan transaksi jual-beli pun terjadi. Rasul s.a.w. segera menuju ke rumah beliau untuk mengambil uang pembayaran harga kuda tersebut. Beliau berjalan cepat menuju ke rumah, dan meminta Sawa` ibn Qais untuk mengikutinya. Namun si pemilik kuda hanya berjalan santai, sengaja memperlambat langkahnya. Bahkan ia masih saja terus melayani setiap orang yang berpapasan dengannya yang menawar kuda bawaannya itu. Mereka tidak tahu bahwa kuda itu sudah laku terjual kepada Rasulullah s.a.w.

Dalam perjalanan itu Sawa` ibn Qais al-Muharibi mendapatkan pembeli lain yang berani membayar lebih tinggi dari harga yang telah disepakatinya dengan Rasulullah s.a.w. Maka ia pun bergegas menyusul Rasulullah, dan menghampiri beliau seraya berkata: “Apakah Anda jadi membelinya? Kalau tidak, biarlah aku menjualnya kepada orang lain.”

Rasulullah s.a.w. kini menyadari kenapa Sawa` ibn Qais tidak mau berjalan bersama-sama dengannya. Rupanya sesuatu yang tak diharapkan telah terjadi. Namun beliau tetap tenang dan ramah sebagaimana sikap beliau kepada setiap orang.

“Lho, bukankah engkau telah menjualnya kepadaku? Dan sekarang ini kita sedang menuju kediamanku. Aku akan membayar kepadamu harga yang telah kita sepakati bersama tadi,” jawab Rasulullah kepadanya dengan lembut.

“Ah, Anda keliru. Demi Allah, aku memang memutuskan menjualnya kepada Anda, tapi tidak ada harga yang kita sepakati bersama.”

“Kenapa secepat itu kamu menjadi pelupa?” Rasulullah s.a.w. membujuknya agar kembali bersikap jujur.

Sawa’ ibn Qais ngotot, “Tidak, itu tidak benar. Aku belum menjual kudaku ini kepadamu. Sekarang aku telah mendapatkan orang lain yang memberi penawaran yang lebih tinggi dari penawaranmu. Kalau Anda bersedia membayar seperti yang ia tawarkan, silakan. Kalau tidak…. ya terpaksa kujual kudaku ini kepada orang itu,” begitu ancamnya.

Mendengar ada perselisihan, orang-orang yang berada di lokasi itu mulai berdatangan mendekati mereka berdua, dan akhirnya kasus itu merebak luas. Mengetahui duduk persoalannya, beberapa sahabat Rasulullah yang kebetulan ada di tempat itu merasa ada kejanggalan dalam diri Sawa’ ibn Qais; mereka heran kenapa Sawa’ ibn Qais tega memperlakukan Rasulullah seperti itu? Namun mereka tidak dapat berbuat banyak karena Rasulullah s.a.w. sendiri tampak tetap lemah-lembut dan berwajah ceria kepada Ibn Qais.

“Bukankah tidak boleh kamu menjual sesuatu yang sudah kamu jual kepada orang lain, karena barang itu sudah menjadi milik orang tersebut?” Rasulullah s.a.w. membujuknya.

“Tidak, aku tidak pernah menjual kudaku ini kepada Anda. Kalau Anda keberatan, silakan datangkan saksi yang dapat membuktikan kebenaran dakwaan Anda ini,” tegas Ibn Qais kepada Rasulullah s.a.w.

Para sahabat Rasulullah terperanjat mendengar ucapan Ibn Qais yang terakhir ini; mereka bagaikan tersambar gledek.

“Celaka kamu. Tidakkah kamu menyadari sedang berbicara dengan siapa kamu sekarang ini? Ini Rasul Allah. Mustahil beliau mengucapkan sesuatu yang tidak benar!”

Rasulullah s.a.w. tetap saja tenang dan lembut dalam menghadapi persoalan itu. Pertengkaran justru mulai terjadi antara para sahabat dengan Sawa’ ibn Qais.

“Aku tidak akan menyerah begitu saja kepada kalian,” kata Ibn Qais, “dia harus menghadirkan saksi yang membenarkan pengakuannya! Titik.”

Sawa’ ibn Qais mantap sekali. Ia amat yakin tidak seorang pun dapat memberikan kesaksian yang membuatnya tunduk kepada kebenaran, karena tak satu manusia pun bersama mereka ketika terjadi transaksi jual-beli tersebut.

Betapa kesal hati para sahabat menyaksikan gelagat orang Ibn Qais. Mereka tidak meragukan sedikit pun bahwa ia berbohong tetapi tak sudi menyerah. Mereka bingung, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap orang Badui itu. Apalagi menyaksikan Rasul s.a.w. yang tetap tenang dan lembut.

Tiba-tiba muncul seseorang dan bergabung ke dalam kerumunan orang-orang itu. Khuzaimah al-Anshari, namanya. Setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, ia spontan berkata tanpa basa-basi, “Aku saksinya. Akulah yang melihat, mendengar, dan menyaksikan bahwa Rasul s.a.w. benar-benar telah membeli kuda ini darimu, dan kamu telah menjualnya kepada beliau.”

Mendengar pernyataan Khuzaimah yang meluncur bagaikan anak panah ini, mulut Ibn Qais langsung menjadi terkatup. Tidak mampu lagi ia berkutik. Apa yang menjadi tuntutannya sudah terpenuhi. Ia pun menyerah kepada kebenaran yang ia khianati.

Namun kini giliran Rasulullah s.a.w. yang mengajukan pertanyaan kepada Khuzaimah, “Gerangan apakah yang mendorongmu membuat kesaksian seperti itu, padahal kamu tidak hadir bersama aku dan orang itu ketika terjadi transaksi jual-beli yang diingkarinya itu?”

“Wahai Rasulallah —semoga salam, rahmat, shalawat dan berkat Ilahi tetap tercurah atasmu sekeluarga— aku menjadi saksi atas kebenaran semua pernyataanmu tentang berita-berita besar yang Anda terima dari Sang Pencipta alam semesta, Penguasa dunia dan akhirat. Maka gerangan apakah sebabnya yang membuatku tidak menjadi saksi atas kebenaran pernyataanmu tentang transaksi jual-beli seekor kuda?”

Rasulullah tertegun mendengar pernyataan sahabatnya yang tulus itu; yang mampu secara spontan menerjemahkan keimanannya terhadap kenabian beliau secara sederhana tapi gamblang. Rasul s.a.w. —yang selalu menghargai cinta dan ketulusan orang lain dengan cinta dan ketulusan yang lebih besar— langsung bersabda: “Kesaksian Khuzaimah senilai kesaksian dua orang jujur dari umatku. Barangsiapa yang Khuzaimah memberikan kesaksian atas keabsahan dakwaannya atau kebatilan tuntutannya, maka cukuplah yang demikian itu menjadi sandaran yang adil bagi sebuah putusan yang benar.”

Tidak ada keraguan sama sekali bahwa ketulusan Khuzaimah tersebut adalah bagian dari sikap penghambaannya kepada Allah SWT. Karena itulah Allah SWT memberikan penghargaan kepadanya dengan mengizinkannya bersujud kepada-Nya di atas hamparan yang tersuci dari seluruh ciptaan-Nya yang suci.

Di suatu pagi, Khuzaimah berkata kepada Rasulullah s.a.w., “Wahai Rasulallah, semalam aku mimpi bersujud di atas dahimu.”

Maka dengan serta-merta Rasul yang mulia itu bertelentang, dan dengan penuh kelembutan beliau berkata kepada sahabatnya itu: “Ayo, realisasikanlah mimpi itu. Buktikanlah bahwa yang engkau alami dan engkau saksikan semalam adalah suatu kebenaran.” Maka bersujudlah Khuzaimah al-Anshari kepada Allah di hamparan tersuci itu, di atas dahi Rasulullah s.a.w.


Jajak Pendapat

Apa anda mengetahui acara "Sehari Bersama Rasulullah" yang diselenggarakan oleh KCR & dipandu langsung oleh Haddad Alwi?

View Results

Loading ... Loading ...

Categories

 

August 2010
M T W T F S S
« Nov    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031