<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/2.3.3" -->
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	>

<channel>
	<title>Komunitas Cinta Rasulullah</title>
	<link>http://www.haddad-alwi.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 10:30:51 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.3</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Trailer Film &#8220;Emak Ingin Naik Haji&#8221;</title>
		<link>http://www.haddad-alwi.com/2009/11/11/trailer-film-emak-ingin-naik-haji/</link>
		<comments>http://www.haddad-alwi.com/2009/11/11/trailer-film-emak-ingin-naik-haji/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Nov 2009 04:05:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KCR</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.haddad-alwi.com/2009/11/11/trailer-film-emak-ingin-naik-haji/</guid>
		<description><![CDATA[ 




 
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"> <object height="405" width="500"></object></p>
<p><object width="500" height="405">
<param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/O_XEYJVYuew&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;color1=0x3a3a3a&#038;color2=0x999999&#038;border=1"></param>
<param name="allowFullScreen" value="true"></param>
<param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/O_XEYJVYuew&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;color1=0x3a3a3a&#038;color2=0x999999&#038;border=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="500" height="405"></embed></object></p>
<p class="MsoNormal"><o:p> </o:p></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.haddad-alwi.com/2009/11/11/trailer-film-emak-ingin-naik-haji/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Haddad Alwi Membuat Ribuan Warga Palu Menangis</title>
		<link>http://www.haddad-alwi.com/2009/10/27/haddad-alwi-membuat-ribuan-warga-palu-menangis/</link>
		<comments>http://www.haddad-alwi.com/2009/10/27/haddad-alwi-membuat-ribuan-warga-palu-menangis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 05:58:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KCR</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.haddad-alwi.com/2009/10/27/haddad-alwi-membuat-ribuan-warga-palu-menangis/</guid>
		<description><![CDATA[Palu (ANTARA News) - Ustadz Haddad Alwi membuat ribuan warga Palu, Sulawesi Tengah, menangis dalam dzikir akbar yang dilakukannya pada Jumat malam.
Ribuan pengunjung dzikir yang berasal dari seluruh pelosok Kota Palu itu terlihat meneteskan air mata ketika mendengar doa dan tausiah yang diucapkan Ustadz Haddad Alwi. Bahkan suara tangisan kian terdengar jelas ketika lampu ruangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana">Palu (ANTARA News) - Ustadz Haddad Alwi membuat ribuan warga Palu, Sulawesi Tengah, menangis dalam dzikir akbar yang dilakukannya pada Jumat malam.<o:p></o:p></span></p>
<p><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana">Ribuan pengunjung dzikir yang berasal dari seluruh pelosok Kota Palu itu terlihat meneteskan air mata ketika mendengar doa dan tausiah yang diucapkan Ustadz Haddad Alwi. </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV">Bahkan suara tangisan kian terdengar jelas ketika lampu ruangan dzikir dimatikan. Saat itu, hanya terdengar suara Haddad Alwi yang mengajak untuk tetap mencintai Allah dan Nabi Muhammad SAW.<o:p></o:p></span></p>
<p><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV">Suara musik yang pelan dan lembut menambah suasana kian khusyuk. Pengunjung seisi ruangan menundukkan kepala dan terlihat khusyuk mendengarkan tausiah yang disampaikan Haddad Alwi. Dalam kesempatan itu, Haddad Alwi juga mengajak umat Islam untuk tetap meningkatkan ibadah di sisa bulan Ramadan ini.<o:p></o:p></span></p>
<p><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV">&#8220;Tingkatkan terus amal ibadah supaya kita termasuk orang-orang yang beruntung dan mendapatkan malam Lailatul Qodar,&#8221; tutur Haddad Alwi.<o:p></o:p></span></p>
<p><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV">Dzikir itu sendiri berlangsung sekitar 50 menit. Ratusan pengunjung juga tidak sempat memasuki ruangan dzikir karena penuh sehingga mereka terpaksa mengikuti dzikir di pelataran.<o:p></o:p></span></p>
<p><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV">Kegiatan tersebut juga dijaga ketat puluhan petugas keamanan. Petugas juga mengamankan arus lalu lintas yang sempat macet akibat banyaknya pengunjung.<o:p></o:p></span></p>
<p><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV">Sumber: www.antaranews.com<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana"><o:p> </o:p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.haddad-alwi.com/2009/10/27/haddad-alwi-membuat-ribuan-warga-palu-menangis/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Haddad Temukan Pengganti Sulis</title>
		<link>http://www.haddad-alwi.com/2009/10/27/haddad-temukan-pengganti-sulis/</link>
		<comments>http://www.haddad-alwi.com/2009/10/27/haddad-temukan-pengganti-sulis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 05:56:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KCR</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.haddad-alwi.com/2009/10/27/haddad-temukan-pengganti-sulis/</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA-Haddad Alwi adalah salah satu ikon dalam ranah musik Islami. Lewat karya-karya fenomenalnya, dia dikenal luas oleh masyarakat, menembus batas geografis, suku, dan bangsa. Selama kariernya di dunia rekaman, dia telah merilis banyak album dengan total penjualan mencapai puluhan juta kopi.

Memasuki bulan suci Ramadan 1430 Hijriyah, Haddad kembali hadir dalam syair-syair yang sarat pujian kepada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV">JAKARTA-Haddad Alwi adalah salah satu ikon dalam ranah musik Islami. Lewat karya-karya fenomenalnya, dia dikenal luas oleh masyarakat, menembus batas geografis, suku, dan bangsa. Selama kariernya di dunia rekaman, dia telah merilis banyak album dengan total penjualan mencapai puluhan juta kopi.<u1:p></u1:p><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV"><br />
Memasuki bulan suci Ramadan 1430 Hijriyah, Haddad kembali hadir dalam syair-syair yang sarat pujian kepada Sang Khalik dan Rasul-Nya yang dikemas dalam album “12 Lagu Pilihan Haddad Alwi”. Album ini berisikan dua lagu baru dan sepuluh lagu pilihan dari dua album terdahulunya.<o:p></o:p></span></p>
<p><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV">Sebagai single unggulan adalah “Marhaban Ya Ramadhan”, sebuah pujian akan hadirnya bulan suci Ramadan. Dia berkolaborasi dengan penyanyi anak-anak bernama Anti. Ditingkahi suara anak-anak kecil, lagu ini terasa sangat membumi dan menyejukkan.<o:p></o:p></span></p>
<p><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV">“Pertemuaan saya dengan Anti bisa disebut sebagai suatu berkah. Karena sudah bertahun-tahun saya berusaha mencari penyanyi cilik yang sesuai dengan karakter lagu yang saya bawakan. Karena sejak kemunculan saya dengan penyanyi Sulis dalam ‘Cinta Rasul’ beberapa tahun lalu, saya belum menemukan lagi penyanyi yang pas. Kriteria yang dicari adalah vokal bagus dan background keluarga yang Islami,” tuturnya saat ditemui di kantor Sonny Music, kemarin. <o:p></o:p></span><u1:p></u1:p></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV"><br />
<strong>Libatkan Anak </strong><u1:p></u1:p><o:p></o:p></span></p>
<p><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV">Alkisah, rekan Haddad bernama Anwar Fauzi yang bertindak sebagai arranger lagu “Marhaban Ya Ramadhan” menginformasikan tentang keberadaan Anti. Gadis berusia 10 tahun yang tinggal di daerah Parung, Bogor, itu memiliki vokal yang khas.<o:p></o:p></span></p>
<p><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV">Gadis kecil yang ayahnya berprofesi sebagai tukang ojek dan ibunya sebagai pedagang sayur tersebut sejak kecil sudah mengenal lagu-lagu Haddad Alwi. Ia bersama adiknya yang berumur 5 tahun bahkan hapal lagu “Cinta Rasul”.<o:p></o:p></span></p>
<p><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV">Haddad yang sudah bergelut dengan industri rekaman selama lebih dari 12 tahun masih memegang teguh konsep akan dakwah melalui lagu. Dia selalu melibatkan anak-anak dalam albumnya.<o:p></o:p></span></p>
<p><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV">“Saya prihatin dengan anak-anak sekarang yang sudah jarang mengenal shalawat. Mereka justru fasih menyanyikan lagu-lagu dewasa. Insya Allah album ini menjadi media yang bisa memompa semangat anak-anak untuk kembali bershalawat, sehingga lebih mengenal dan mencintai Allah dan Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.<o:p></o:p></span></p>
<p><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV">Selain lagu “Marhaban Ya Ramadhan”, ada juga lagu berjudul “Pergi Haji” (duet dengan Ashilla). Lagu ini menjadi soundtrack film <em>Emak Ingin Naik Haji</em> garapan Mizan Production yang akan ditayangkan Oktober mendatang.<o:p></o:p></span></p>
<p><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV">Sumber: Suara Merdeka</span></strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana"><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana"><o:p> </o:p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.haddad-alwi.com/2009/10/27/haddad-temukan-pengganti-sulis/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KEKAYAAN KITA YANG TERBESAR</title>
		<link>http://www.haddad-alwi.com/2008/08/08/kekayaan-kita-yang-terbesar/</link>
		<comments>http://www.haddad-alwi.com/2008/08/08/kekayaan-kita-yang-terbesar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 04:19:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KCR</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.haddad-alwi.com/2008/08/08/kekayaan-kita-yang-terbesar/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: UST. Husin Nabil 
 
Dalam jasad atau kepompong tubuh kita ini, ada sesuatu yang sangat berharga sekali. Begitu mahalnya hingga itulah satu-satunya modal bagi kita untuk mencapai kebahagiaan. Jika modal ini hilang, maka kita telah menghilangkan segala-galanya. Kita telah membuang percuma kekayaan terbesar yang ingin dimiliki oleh semua makhluk-Nya bahkan para malaikat sekalipun.
Keberuntungan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in; line-height: 150%" align="center"><strong>Oleh: UST. Husin Nabil <o:p></o:p></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.5in; line-height: 150%" align="center"><o:p> </o:p></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%">Dalam jasad atau kepompong tubuh kita ini, ada sesuatu yang sangat berharga sekali. Begitu mahalnya hingga itulah satu-satunya modal bagi kita untuk mencapai kebahagiaan. Jika modal ini hilang, maka kita telah menghilangkan segala-galanya. Kita telah membuang percuma kekayaan terbesar yang ingin dimiliki oleh semua makhluk-Nya bahkan para malaikat sekalipun.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%">Keberuntungan yang akan kita peroleh, jika kita mengolah modal itu, adalah;</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%"><!--[if !supportLists]--><span>-<span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">         </span></span><!--[endif]-->Hidup tanpa kekhawatiran dan cemas.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%"><!--[if !supportLists]--><span>-<span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">         </span></span><!--[endif]-->Hidup tanpa kesedihan dan gundah.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%"><!--[if !supportLists]--><span>-<span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">         </span></span><!--[endif]-->Hidup tanpa keserakahan dan ketamakan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%"><!--[if !supportLists]--><span>-<span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">         </span></span><!--[endif]-->Hidup dalam kecukupan tanpa pernah merasakan kekurangan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%"><!--[if !supportLists]--><span>-<span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">         </span></span><!--[endif]-->Hidup tanpa prasangka buruk dan kebencian serta dalam damai.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%"><!--[if !supportLists]--><span>-<span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">         </span></span><!--[endif]-->Hidup tanpa egois dan ketidakpedulian.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%"><!--[if !supportLists]--><span>-<span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">         </span></span><!--[endif]-->Hidup tanpa kebencian terhadap makhluk-Nya dan selalu mendahulukan rahmat.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%"><!--[if !supportLists]--><span>-<span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">         </span></span><!--[endif]-->Hidup tanpa keraguan dalam melangkah dan bertindak serta berada di <em>shirath</em>-Nya (jalan) yang <em>mustaqim</em> (lurus).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.75in; text-align: justify; text-indent: -0.25in; line-height: 150%"><!--[if !supportLists]--><span>-<span style="font-family: 'Times New Roman'; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal">         </span></span><!--[endif]-->Hidup selalu bersandar kepada-Nya hingga menemui-Nya</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%">Bayangkan, betapa indahnya dan bermaknanya hidup dengan nilai-nilai di atas. Semua itu bisa terjadi dalam diri kita. Terwujud dalam kehidupan dan muncul di setiap waktu kita. Karena setiap orang dari memiliki pontensi untuk mencapainya. Setiap orang di antara kita tanpa ada perbedaan telah diberi bekal atau modal pokok oleh Dia Yang Maha Kuasa, untuk meraihnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%">Tahukah, apakah modal itu?</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%">Modal berharga itu adalah &#8220;Hati&#8221; yang ada di dalam diri kita. Hati ini adalah tempat pandangan Tuhan dan cawan untuk mencapai makrifat-Nya. “<em>Sesungguhnya Allah tidak memandang jasad dan paras kalian, tetapi Allah memandang hati kalian</em>.” (HR. Muslim) Bila hati kita telah dijamah-Nya, maka kita berada dalam jalan-Nya. Bila hati kita selalu dalam pandangan-Nya, maka kita berada dalam penjagaan-Nya. Bila hati kita dituangi oleh pengetahuan-Nya, maka kita mengenali-Nya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%">Dia Allah berfirman, “<span class="gen"><em>Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah</em>.” (Qs. al-Infithar [82]: 6) </span>Dia (Tuhan) ingin sekali menjamah, memandang dan menuang pengetahuan ke dalam hati, namun kita membiarkan cawan hati kita terbalik karena keyakinan kita yang bertolak belakang dengan keyakinan kekasih-Nya Muhammad Saw.. Atau membiarkannya berlubang, karena kita sendiri setiap harinya melubangi hati kita dengan banyak maksiat yang dilakukan. Atau mengotorinya dengan banyak najis yang berasal dari penyakit-penyakit hati. Karena semua itu, Tuhan tak menjamah, atau memandang atau menuang pengetahuan-Nya ke dalam hati, kecuali jika kita mempersiapkannya terlebih dahulu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%">Bagaimanakah mempersiapkannya?</p>
<ol style="margin-top: 0in" start="1" type="1">
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%">Menghadapkan hati kepada-Nya dengan cara menyesuaikan      keyakinan dan jalan hidup kita dengan keyakinan dan jalan hidup kekasih      Allah, Muhammad Saw.. “<span class="gen"><em>Katakanlah: ‘Jika kamu      (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad Saw), niscaya Allah      mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha      Penyayang</em>.” (Qs. Ali Imran [3]: 31)</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%">Menambal segala lubang hati dengan taubat yang      sebenar-benarnya.<span class="gen"> “<em>Hai orang-orang yang beriman,      bertaubatlah kepada Allah dengan <strong>taubat nasuha</strong> (taubat yang      sebenar-benarnya). Mudah-mudahan Tuhanmu akan menutupi      kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di      bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan      orang-orang mukmin yang bersamanya, sedang cahaya mereka memancar di      hadapan dan sebelah kanan mereka, seraya mereka berkata, ‘Wahai Tuhan      kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami,      sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu</em>.’” (Qs. At-Tahrim      [66] : 8 ) </span><span> </span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%">Menyucikan hati dari najis penyakit hati dengan <em>mujahadah</em>      atau berkorban menundukkan nafsu hewani.<span class="gen"> “<em>Dan      orang-orang yang berkorban untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar      akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah      benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik</em>.” (Qs. al-`Ankabut      [29]: 69) </span><span> </span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.25in; line-height: 150%">Jika semua itu telah dilakukan dengan tekun dan sabar hingga tunduklah nafsu. Maka tak lama kita akan mendengar seruan-Nya, merasakan pandangan dan jamahan-Nya serta tuangan surga makrifat-Nya. “<span class="gen"><em>Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai (Nya). Masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku</em>.” (Qs. al-Fajr [89]: 27 - 30) </span>Di saat itu tercapailah kebahagian, kekayaan, yang tak dilihat oleh mata siapapun, tak didengar oleh telinga siapapun dan tak terlintas dalam benak siapapun.<span>  </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.haddad-alwi.com/2008/08/08/kekayaan-kita-yang-terbesar/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>NABI MEMBAKAR MASJID</title>
		<link>http://www.haddad-alwi.com/2008/05/03/nabi-membakar-masjid/</link>
		<comments>http://www.haddad-alwi.com/2008/05/03/nabi-membakar-masjid/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 May 2008 17:04:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KCR</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.haddad-alwi.com/2008/05/03/nabi-membakar-masjid/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Emha Ainun Nadjib
Rasulullah Muhammad s.a.w. pernah memerintahkan sejumlah petugasnya untuk membakar sebuah masjid, karena beliau menemukan bahwa kecenderungan pada “Takmir Masjid” dan komunitas yang melingkupinya membuat masjid itu lebih merupakan tempat kemunafikan dan pemecah-belah kesatuan, dengan berbagai manipulasi dan kemunkaran, sehingga adanya masjid itu menimbulkan mudharat lebih besar dibanding manfaatnya.
Coba kita ambil pelajaran, satu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><tt><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="IN">Oleh: Emha Ainun Nadjib<u1:p></u1:p></span></strong></tt><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana"><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><tt><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="IN">Rasulullah Muhammad s.a.w. pernah memerintahkan sejumlah petugasnya untuk membakar sebuah masjid, karena beliau menemukan bahwa kecenderungan pada “Takmir Masjid” dan komunitas yang melingkupinya membuat masjid itu lebih merupakan tempat kemunafikan dan pemecah-belah kesatuan, dengan berbagai manipulasi dan kemunkaran, sehingga adanya masjid itu menimbulkan <em>mudharat</em> lebih besar dibanding manfaatnya.<u1:p></u1:p></span></tt><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana"><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span class="yshortcuts"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="IN">Coba kita</span></span><tt><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="IN"> ambil pelajaran, satu poin saja dulu, dari kejadian itu. Misalnya, tidak bisa kita memahaminya dengan pola pandang modern dengan sistem dan konstitusi kenegaraan seperti yang kita anut sekarang. Di zaman kepemimpinan Rasulullah di Madinah, beliau adalah pusat keadilan, pusat nurani, dan pusat kebenaran, yang dipercaya. Orang percaya sepenuhnya kepada beliau, sehingga beliau diridhai orang banyak untuk menjadi pusat pengambilan keputusan.<u1:p></u1:p></span></tt><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><tt><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="IN">Rasulullah bisa disebut diktator atau otoriter andaikata beliau tidak dipercaya rakyat, serta apabila beliau memaksakan suatu keputusan yang umat menilai ada kemunkaran pada keputusan itu. Tetapi belum pernah ada buku sejarah menyebut Muhammad s.a.w. sebagai seorang yang otoriter, karena memang umat percaya dan rela. Padahal secara sistem, konstitusi dan hukum sebagaimana yang kita pahami sekarang, Rasulullah tidak punya hak atau kewenangan untuk mengambil keputusan dan tindakan seperti itu: Rasulullah melanggar HAM dan konstitusi.<u1:p></u1:p></span></tt><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><tt><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="IN">Di dunia modern, tidak ada manusia yang bisa dipercaya oleh orang banyak, apalagi dipercaya sampai tingkat, kadar dan cinta masyarakat memercayai Muhammad s.a.w. Kalau orang tidak saling percaya, maka mereka sama-sama berkepentingan untuk membikin aturan, hukum, konstitusi, transaksi, konvensi, atau apa pun namanya dan konteksnya. Orang mendirikan pagar bersama karena dikhawatirkan sewaktu-waktu akan ada, entah siapa, yang melanggar batas. Di zaman ini orang memerlukan perlindungan norma dan hukum, karena sesama manusia tidak ada kemungkinan saling mempercayai dan mempercayakan secara nurani untuk mendapatkan perlindungan satu sama lain.<u1:p></u1:p></span></tt><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV"><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><tt><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="IN">Anda bisa berkata: “Saya tidak perduli dan tidak mempelajari hukum. Tanpa pasal-pasal hukum pun saya tidak mencuri, tidak akan melakukan korupsi, <em>mo-limo</em>, pembunuhan atau menyakiti orang lain. Kunci-kunci hukum sudah ada dalam kandungan nurani, kalbu dan akal sehat saya. Ada KUHP atau tidak, ada Undang-Undang atau tidak, saya <em>insya allah</em> bisa menjadi manusia yang tidak akan melanggar hakikat hidup manusia yang sejak diciptakan Allah memang wajib saling menyelamatkan, saling menyejahterakan dan saling mencintai.”<u1:p></u1:p></span></tt><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><tt><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="IN">Akan tetapi di alam modern sekarang, kalimat Anda itu tidak akan dipercaya oleh siapa pun. Karena manusia modern tidak punya pengalaman menjadi manusia baik dengan hanya berbekal nurani dan akal sehatnya sendiri. Manusia modern tidak melanggar hukum karena takut kepada hukum, bahkan takut kepada polisi. Manusia modern sangat sukar percaya kepada orang baik, karena tidak punya pengalaman otentik untuk menjadi orang baik. Ada sejumlah orang di dunia modern yang benar-benar baik, tapi tak akan diakui sebagai orang baik, karena adanya orang baik pada wacana modern hanya terdapat di masa silam. Orang baik adalah mitos. Kebaikan hanya terdapat dalam mitologi. Sufi, ulama sejati, hanya beralamat dalam khayalan tentang masa silam. Kalau Sufi hidup sekarang, tak akan ada mata, kalbu, dan akal yang menemukan dan mengakuinya sebagai Sufi.<u1:p></u1:p></span></tt><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV"><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><tt><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="IN">Meskipun Anda benar-benar orang baik, berhasil menolong Raja dan rakyat dari bentrok dan kesengsaraan, bahkan dibantu oleh Allah menerapkan keajaiban sehingga produk Anda tak ada duanya di dunia, jangan berharap dipercaya oleh siapa-siapa. Anda pasti justru dicurigai, disinisi, difitnah, dituduh setan, pengkhianat dan segala kata kutukan lain. Karena Anda memang hidup di tengah manusia modern yang merasa dirinya pahlawan-pahlawan rakyat namun yang otentik dan kongkret pada hidup dan kepribadiannya adalah khianat, sinisme, kecurigaan, buruk sangka, potensialitas setan, pemfitnah. Mereka tidak kenal yang selain fitnah, sangka buruk, kemunafikan, sikap sok pahlawan, yang datang ke rakyat menderita untuk memproklamasikan diri menjadi pembela rakyat, pejuang rakyat, tanpa para rakyat pernah memintanya atau mengamanatinya menjadi pahlawan. Rakyat juga sama sekali tidak punya parameter untuk membedakan mana pejuang mana pedagang, mana pahlawan mana pendusta, atau mana pecinta mana eksploitator (pemeras). Rakyat semacam itu, yang sabar dan tahan memelihara kebodohannya, saya jamin akan terus-menerus sengsara, tak kan pernah memperoleh solusi apa pun atas masalah-masalah mereka. Karena para pejuang yang mendatangi mereka memang tidak pernah punya niat untuk mencari solusi; justru mereka membutuhkan masalah, membutuhkan penderitaan rakyat, demi eksistensi mereka, demi pencarian nafkah mereka: menjual penderitaan orang banyak. Mereka memproklamasikan diri menjadi “Nabi” tanpa ‘nubuwah’. Mengklaim diri sebagai “Rasul” tanpa ‘risalah’. Makanan mereka adalah kepala kosong rakyat yang memelihara kebodohannya. “Masjid” semacam itulah yang dibakar oleh Rasulullah. <u1:p></u1:p></span></tt><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="IN"><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><tt><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="IN">Sekarang hal itu tak mungkin terjadi, karena Negara memiliki hukum. Hukum yang memang sangat diperlukan, namun sangat sempit, linier, serta mengandung kebodohan dan bumerang berlimpah-limpah. Tapi silakan Anda percaya atau tidak: “Masjid” itu nanti akan “dibakar”.<u1:p></u1:p></span></tt><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV"><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><tt><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="IN">(Dikutip dari Harian <em>Surya</em>, edisi 10/11/2007)<u1:p></u1:p></span></strong></tt><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV"><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.haddad-alwi.com/2008/05/03/nabi-membakar-masjid/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>MUHAMMAD (S.A.W.) NABI CINTA</title>
		<link>http://www.haddad-alwi.com/2008/04/16/muhammad-saw-nabi-cinta/</link>
		<comments>http://www.haddad-alwi.com/2008/04/16/muhammad-saw-nabi-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 02:35:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KCR</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.haddad-alwi.com/2008/04/16/muhammad-saw-nabi-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Haidar Bagir
Dan oleh kasih Tuhanmu kamu pun (Muhammad) bersikap lemah-lembut kepada mereka
(QS 3:159)
Demikian Tuhan sendiri menggambarkan sifat-utama pesuruhnya. Bukan hanya itu, di dalam kitab-suci-Nya Dia kabarkan:

Telah datang padamu seorang Pesuruh dari (kalangan) dirimu sendiri. Dia merasa berat atas apa-apa yang menimpamu, sangat menginginkan (kesejahteraan)-mu, dan kepada orang-orang beriman dia amatlah penyantun dan penyayang. (QS [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: center" align="center"><strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV">Oleh: Haidar Bagir</span></strong><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV"><u1:p></u1:p><o:p></o:p></span></p>
<p style="text-align: center" align="center"><em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV">Dan oleh kasih Tuhanmu kamu pun (Muhammad) bersikap lemah-lembut kepada mereka</span></em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV"><br />
(QS 3:159)<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.3in"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV">Demikian Tuhan sendiri menggambarkan sifat-utama pesuruhnya. Bukan hanya itu, di dalam kitab-suci-Nya Dia kabarkan:<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0.3in"><em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV"><br />
Telah datang padamu seorang Pesuruh dari </span></em><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV">(kalangan)<em> dirimu sendiri. Dia merasa berat atas apa-apa yang menimpamu, sangat menginginkan </em>(kesejahteraan)<em>-mu, dan kepada orang-orang beriman dia amatlah penyantun dan penyayang</em>. (QS 9:128)<o:p></o:p></span></p>
<p><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV">Kiranya, semua sifat penuh kasih dan kelembutan itu adalah suatu kenyataan logis mengingat Tuannya Muhammad s.a.w. itu telah berfirman bahwa, ia (Muhammad) tak disuruh kecuali untuk menebarkan kasih bagi alam dan segenap penghuninya (QS 21:107). Ia adalah utusan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, ia adalah suruhan Penopang dan Pemelihara alam keseluruhan.Suatu kali sahabatnya mendengar ia berkata: ”Orang-orang yang saling mencinta karena mengakui Kebesaran-Nya, hidupnya akan penuh cahaya, sehingga bahkan para nabi dan syuhada iri kepadanya.” Memang, ”tak akan masuk surga &#8230; kecuali kalian saling mencinta,” begitu dinasihatkannya.</p>
<p><u1:p></u1:p>Biografinya penuh dengan kisah-kisah fantastis yang mendemonstrasikan sifat penuh cinta-kasih seperti itu. Juga kepada anak-anak. Dia dikenal tak tahan mendengar tangis anak-anak; sebaliknya, orang melihatnya senang menggendong dan memboncengkan mereka di atas untanya. Dia senang menciumi anak-anak sehingga, ketika seorang badui mengecamnya karena mempertunjukkan sikap yang katanya kurang ”laki-laki”, dengan agak kesal dia menukas: ”<em>Siapa yang tidak mengasihi tak akan dikasihi</em>.”Keprihatinannya terhadap nasib para janda juga sudah merupakan bahan standar dalam uraian-biografisnya. Dia jadikan upaya mengurusi kaum yang lemah ini sebagai insentif untuk meraih surga, sebagaimana menyantuni anak yatim adalah bukti integritas keagamaan seseorang. Yang tak pernah dia lupakan, kapan saja ia bertemu anak-anak tanpa ibu-bapa ini, adalah mengusap-usap kepala mereka. Katanya: ”<em>Orang yang menyantuni anak yatim akan bersamaku di surga, seperti jari telunjuk dan jari tengah</em>.”<o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-indent: 0.3in"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV"><br />
</span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana">Berkiprah di tengah-tengah kaum <em>dhu’afa</em>, belajar dari Nabi ini, adalah tak kurang daripada perjalanan spiritual untuk menemui-Nya. Katanya: ”<em>Temui </em>(Dia)<em> di tengah-tengah mereka</em>.”<br />
Meski perbudakan adalah sesuatu yang lazim di masanya, perlakuan Muhammad s.a.w. kepada mereka tak beda dengan terhadap manusia merdeka. </span><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV">Seorang budak perempuan yang bersedih karena menghilangkan uang belanja majikannya membuatnya mau menunda aktivitasnya. Digantinya uang yang hilang, diantarnya si budak ke pasar untuk membeli barang suruhan majikannya, dan ditemaninya pulang ke rumah demi menghindarkan kemarahan sang tuan akibat keterlambatan yang lama. Begitu baiknya ia kepada budaknya sendiri, Zaid ibn Haritsah, sehingga sang budak tetap memilih tinggal bersamanya bahkan ketika ia hendak diserahkan kembali kepada orangtuanya sebagai manusia merdeka. Kata sang budak, sepanjang hidupnya Muhammad tak pernah menunjukkan kekesalan kepadanya.</p>
<p><u1:p></u1:p>Rasa pemaafnya nyaris tanpa batas. Dia menjenguk musuh yang terus menghina dan menyiraminya dengan kotoran ketika si musuh didapatinya terbaring sakit. Dia menyuapi Yahudi tunanetra yang setiap hari mencacinya. Dan dia memberikan amnesti tanpa syarat kepada kaum penindas Makkah yang telah berupaya menyengsarakan hidupnya, justru ketika dia bisa melakukan apa saja setelah menaklukkan mereka. Ketika Jibril bertanya, apakah Nabi mau agar ia (Jibril) jatuhkan gunung kepada orang-orang yang menganiayanya di Tha’if, dia malah memintakan ampun atas merka. ”<em>Karena mereka tidak mengerti</em>,” katanya.</p>
<p><u1:p></u1:p>Tak hanya ketika di dunia saja Muhammad mempersembahkan hidupnya untuk manusia. Di ranjang-kematiannya, kata-kata yang terus terucap adalah: ”<em>Umatku</em> &#8230; <em>umatku</em> &#8230;.” Bahkan, dikabarkan bahwa, kelak di padang mahsyar sana, ketika semua orang bukan alang-kepalang kebingungan dan ketakutan, ketika ibu-ibu pun melupakan anak-anaknya karena dahsyat dan mencekamnya suasana, yang dia lakukan adalah memanggil semua orang – termasuk para pendosa: ”<em>Halumma &#8230; halumma &#8230;</em> (<em>Kemarilah</em> &#8230; <em>kemarilah</em> &#8230;). <em>Biar aku berikan syafa’atku kepadamu, agar Tuhan mengampuni dosa-dosamu</em>.”</p>
<p><u1:p></u1:p>Begitu kasihnya Muhammad pada manusia sehingga dia katakan bahwa Tuhannya ada bersama orang-orang lemah, orang-orang yang hancur hatinya, orang-orang lapar, orang-orang yang terasing dan kesepian, dan orang-orang sakit. Bahkan, tak ada Islam yang lebih utama ketimbang menyantuni mereka.</p>
<p><u1:p></u1:p>”Apakah Islam yang paling baik itu?” ia ditanya.</p>
<p><u1:p></u1:p>”<em>Islam yang paling baik adalah memberi makan orang yang lapar dan menebarkan kedamaian di tengah orang-orang yang kau kenal maupun yang asing</em>,” jawabnya.<u1:p></u1:p><br />
Suatu kali ia pun mengajar kita: ”<em>Barangsiapa menyayangi apa-apa yang ada di bumi, dia akan disayangi Yang di Langit</em>.”</p>
<p><u1:p></u1:p>Kedermawanan-hatinya tak mengecualikan manusia, bahkan makhluk lain yang bukan manusia. Sudah terkenal perintahnya agar manusia tak merusak tetumbuhan, meskipun dalam kecamuk perang. Pernah dia kabarkan pula ihwal seorang pelacur yang diampuni dosa-dosa-kejinya hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. Hingga sabdanya: ”<em>Dalam setiap</em> (makhluk) <em>yang di dalamnya melata kehidupan, ada ganjaran</em>.”Kepada orang kafir pun tak kurang-kurang ia luapkan kedermawanan hatinya. Setidaknya ini kisah Jalaluddin Rumi dalam <em>Matsnawi</em>-nya :</p>
<p><u1:p></u1:p>Seorang kafir mengunjungi Nabi, dan Nabi pun menjamunya. Sebagaimana kebiasaan orang-orang yang hanya percaya dunia, dia makan dengan ”tujuh perut”-nya. Tapi bukan itu saja. Setelah mengenyangkan dirinya, dia berbaring di ruang tamu, dan mengotori kain linen, milik Nabi, tempatnya berbaring. Malah akhirnya dia menyelinap keluar rumah begitu saja sebelum fajar menjelang. Ketika ia terpaksa kembali untuk mengambil barangnya yang tak sengaja tertinggal di rumah Nabi, didapatinya manusia mulia ini sedang mencuci kain linen itu dengan tangannya sendiri, tanpa sedikit pun menunjukkan kekesalan kepada si kafir.</p>
<p><u1:p></u1:p>Memang, tak ada yang bisa ragu, Muhammad s.a.w. menjadikan jalan terpendek untuk bertemu Tuhan kita, tidak pada sekadar ibadah ritual belaka, bahkan tidak pada latihan-latihan mistik individual saja, melainkan pada besarnya cinta kita. Cinta kepada Tuhan Sang Maha Cinta, dan cinta pada sesama manusia.</p>
<p><u1:p></u1:p>Inilah spiritualitas yang sesungguhnya. Inilah tasawuf, sejatinya.</p>
<p><u1:p></u1:p>Doa dan keselamatan atasmu, wahai al-Musthafa!<u1:p></u1:p><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV">(Dikutip dari Majalah <em>Madina,</em> no.3, 2008)<u1:p></u1:p><o:p></o:p></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 8pt; font-family: Verdana" lang="SV"><o:p> </o:p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.haddad-alwi.com/2008/04/16/muhammad-saw-nabi-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>APA KATA NON-MUSLIM TENTANG MUHAMMAD S.A.W.</title>
		<link>http://www.haddad-alwi.com/2008/04/14/apa-kata-non-muslim-tentang-muhammad-saw/</link>
		<comments>http://www.haddad-alwi.com/2008/04/14/apa-kata-non-muslim-tentang-muhammad-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 11:50:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KCR</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.haddad-alwi.com/2008/04/14/apa-kata-non-muslim-tentang-muhammad-saw/</guid>
		<description><![CDATA[Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi…
(QS 33 al-Ahzab:40)
Ya Allah, curahkan shalawat atas junjungan kami Muhammad  dan keluaganya.
Berikut ini adalah kumpulan cuplikan pendek dari berbagai tokoh terkemuka non-Muslim dari kalangan sarjana, penulis, filosof, penyair, politisi, dan aktifis di dunia Timur dan Barat. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><em>Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi…</em><br />
(QS 33 al-Ahzab:40)</p>
<p align="center"><em>Ya Allah, curahkan shalawat atas junjungan kami Muhammad  dan keluaganya.</em></p>
<p>Berikut ini adalah kumpulan cuplikan pendek dari berbagai tokoh terkemuka non-Muslim dari kalangan sarjana, penulis, filosof, penyair, politisi, dan aktifis di dunia Timur dan Barat. Perlu diketahui bahwa, tak seorang pun di antara mereka yang kemudian menjadi Muslim. Karena itu, kalimat-kalimat yang dicuplik di bawah ini merefleksikan pandangan pribadi mereka atas berbagai aspek kehidupan Nabi Muhammad s.a.w.</p>
<p><strong>Michael H. Hart (1932- )<br />
Profesor astronomi, fisika dan sejarah sains</strong><br />
“Pilihan saya menempatkan Muhammad di urutan teratas dalam daftar orang-orang yang paling berpengaruh di dunia boleh jadi mengejutkan para pembaca dan dipertanyakan oleh banyak orang, tetapi dia (Muhammad) adalah satu-satunya manusia dalam sejarah yang sangat berhasil dalam dua tataran sekaligus, agama (ukhrawi) dan sekular (duniawi).”<br />
[<em>The 100: A Ranking Of The Most Influential Persons In History</em>, New York, 1978, h. 33]</p>
<p><strong>William Montgomery Watt (1909- )<br />
Profesor (Emeritus) Studi Bahasa Arab dan Islam di University of Edinburgh</strong><br />
“Kerelaannya dalam mengalami penganiayaan demi keyakinannya, ketinggian akhlak orang-orang yang mempercayainya dan menghormatinya sebagai pemimpin, dan kegemilangan prestasi puncaknya —semua itu membuktikan ketulusan hatinya yang sempurna. Tetapi kenyataannya, tak seorang tokoh besar pun dalam sejarah yang sangat kurang dihargai di dunia Barat seperti Muhammad. Menganggap Muhammad sebagai seorang penipu akan menimbulkan lebih banyak masalah ketimbang memecahkannya.”<br />
[<em>Mohammad At Mecca</em>, Oxford, 1953, h. 52]</p>
<p><strong>Alphonse de Lamartine (1790-1869)<br />
Penyair dan negarawan Prancis</strong><br />
“Filosof, orator, utusan Tuhan, pembuat undang-undang, pejuang, penakluk pikiran, pembaru dogma-dogma rasional dan penyembahan kepada Tuhan yang tak terperikan; pendiri dua puluh kerajaan bumi dan satu kerajaan langit, dialah Muhammad. Berkaitan dengan semua norma yang menjadi tolak ukur kemuliaan manusia, kita boleh bertanya, adakah manusia yang lebih besar daripada dia?”<br />
[<em>Histoire De La Turquie</em>, Paris, 1854, vol. II, h. 276-277]</p>
<p><strong>Reverend Bosworth Smith (1794-1884)<br />
Mantan pengawas Trinity College, Oxford</strong><br />
“… Dia Caesar sekaligus Paus; tetapi dia adalah Paus tanpa pangkat Paus dan Caesar tanpa pasukan Caesar. Tanpa tentara tetap, tanpa pengawal, tanpa istana, tanpa pendapatan tetap, jika pernah ada manusia yang memiliki hak untuk mengatakan bahwa dia diperintah oleh Tuhan Yang Maha Benar, dialah Muhammad; karena dia memiliki semua kekuasaan tanpa peralatan dan pendukung untuk itu.”<br />
[<em>Mohammed and Mohammedanism</em>, London, 1874, p. 235]</p>
<p><strong>Mohandas Karamchand Gandhi (1869-1948)<br />
Pemikir, negarawan, dan pemimpin nasionalis India</strong><br />
“&#8230;. Saya semakin yakin bahwa bukanlah pedang yang menaklukkan sebuah daerah bagi Islam untuk hidup pada zaman itu. Kesederhanaan yang teguh, nabi yang sama sekali tidak menonjolkan-diri, kesetiaannya yang luar biasa kepada janjinya, kasih sayangnya yang amat besar kepada para sahabat dan pengikutnya, keberaniannya, kepercayaannya yang mutlak kepada Tuhan dan kepada misinya; inilah, dan bukan pedang, yang mengantarkan segala sesuatu di hadapan mereka dan mengatasi setiap masalah.”<br />
[<em>Young India</em> (majalah), 1928, Volume X]</p>
<p><strong>Edward Gibbon (1737-1794)<br />
Dianggap sejarawan Inggris terbesar di zamannya</strong><br />
“Kesuksesan kehidupan Muhammad yang luar biasa disebabkan semata-mata oleh kekuatan akhlak tanpa pukulan pedang.”<br />
[<em>History Of The Saracen Empire</em>, London, 1870]</p>
<p><strong>John William Draper (1811-1882)<br />
Ilmuwan, filosof, dan sejarawan Amerika</strong><br />
“Empat tahun setelah runtuhnya kekaisaran Roma Timur (Kaisar Justin), pada 569 Masehi, di kota Makkah, di jazirah Arab, lahirlah manusia yang di antara seluruh manusia telah memberikan pengaruh amat besar bagi umat manusia&#8230; Muhammad.”<br />
[<em>A History of the Intellectual Development of Europe</em>, London, 1875, vol.1, h. 329-330]</p>
<p><strong>David George Hogarth (1862-1927)<br />
Ahli arkeologi Inggris, penulis, dan pengurus Museum Ashmolean, Oxford</strong><br />
“Tindak-tanduk kesehariannya, yang serius ataupun yang sepele, menjadi hukum yang ditaati dan ditiru secara sadar oleh jutaan orang masa kini.  Tak seorang pun diperhatikan oleh golongan umat manusia mana pun seperti Manusia Sempurna ini yang diteladani secara saksama. Tingkah laku pendiri agama Kristen tidak begitu mempengaruhi kehidupan para pengikut-Nya. Selain itu, tak ada Pendiri suatu agama yang dikucilkan tetapi memperoleh kedudukan mulia seperti Rasul Islam.<br />
[<em>Arabia</em>, Oxford, 1922, h. 52]</p>
<p><strong>Washington Irving (1783-1859)<br />
Terkenal sebagai “sastrawan Amerika pertama”</strong><br />
“Dia makan secara sederhana dan bebas dari minuman keras, serta sangat gemar berpuasa. Dia tidak menuruti nafsu bermewah-mewah dalam berpakaian, tidak pula ia menuruti pikiran yang sempit; kesederhaannya dalam berpakaian dilatarbelakangi oleh sikapnya yang tidak mempedulikan perbedaan dalam hal-hal yang sepele&#8230;. Dalam urusan pribadinya dia bersikap adil. Dia memperlakukan kawan dan orang asing, orang kaya dan orang miskin, orang kuat dan orang lemah, dengan cara yang adil. Dia dicintai oleh rakyat jelata karena dia menerima mereka dengan kebaikan hati dan mendengarkan keluhan-keluhan mereka&#8230;. Keberhasilan militernya bukanlah kemenangan yang sia-sia dan sekali-kali tidak membuatnya merasa bangga, karena tujuan semuanya itu bukan untuk kepentingan pribadinya. Ketika dia memiliki kekuasaan yang amat besar, ia tetap sederhana dalam sikap dan penampilannya, sama seperti ketika dia dalam keadaan sengsara. Sangat berbeda dengan seorang raja, dia tidak suka jika, ketika memasuki ruangan, orang menunjukkan penghormatan yang berlebihan kepadanya.”<br />
[<em>Life of Mahomet</em>, London, 1889, h. 192-3, 199]</p>
<p><strong>Annie Besant (1847-1933)<br />
Teosof Inggris dan pemimpin nasionalis India, Presiden Kongres Nasional India pada 1917</strong><br />
&#8220;Siapa pun yang mempelajari kehidupan dan sifat Nabi besar dari jazirah Arabia ini, siapa pun yang mengetahui bagaimana ia mengajar dan bagaimana ia hidup, pasti memberikan rasa hormat kepada Nabi agung itu, salah seorang utusan Tuhan yang luar biasa. Dan meskipun dalam uraian saya kepada Anda akan tersebut banyak hal yang barangkali sudah biasa bagi kebanyakan orang, akan tetapi setiap kali saya membaca-ulang tentang dia, saya sendiri merasakan lagi kekaguman yang baru, menimbulkan lagi rasa hormat yang baru kepada guru bangsa Arab yang agung itu.”<br />
[<em>The Life and Teachings of Muhammad</em>, Madras, 1932, h. 4]</p>
<p><strong>Edward Gibbon (1737-1794)<br />
Dianggap sejarawan besar Inggris di zamannya</strong><br />
“Memorinya (yakni, Muhammad) sangat besar dan kuat, sikapnya sederhana dan ramah, imajinasinya agung, keputusannya jelas, cepat, dan tegas. Dia memiliki keberanian berpikir maupun bertindak.”<br />
[<em>History of the Decline and Fall of the Roman Empire</em>, London, 1838, vol.5, h.335]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.haddad-alwi.com/2008/04/14/apa-kata-non-muslim-tentang-muhammad-saw/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Syafa’at Rasulullah Harapannya</title>
		<link>http://www.haddad-alwi.com/2008/04/09/syafa%e2%80%99at-rasulullah-harapannya/</link>
		<comments>http://www.haddad-alwi.com/2008/04/09/syafa%e2%80%99at-rasulullah-harapannya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Apr 2008 03:52:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KCR</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.haddad-alwi.com/2008/04/09/syafa%e2%80%99at-rasulullah-harapannya/</guid>
		<description><![CDATA[Dengan hati tulus penuh cinta, Rabi`ah mengabdikan diri kepada Rasulullah s.a.w. Seharian, dari pagi hingga petang, ia terus-menerus berada di tempat Nabi s.a.w. berada; memenuhi kebutuhan beliau, melaksanakan apa saja yang dikehendaki oleh beliau dan keluarga. Bahkan setelah melaksanakan shalat ‘Isya sekalipun, ia tidak meninggalkan kediaman Nabi s.a.w. Kalau Nabi s.a.w. telah memasuki kamar istrinya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan hati tulus penuh cinta, Rabi`ah mengabdikan diri kepada Rasulullah s.a.w. Seharian, dari pagi hingga petang, ia terus-menerus berada di tempat Nabi s.a.w. berada; memenuhi kebutuhan beliau, melaksanakan apa saja yang dikehendaki oleh beliau dan keluarga. Bahkan setelah melaksanakan shalat ‘Isya sekalipun, ia tidak meninggalkan kediaman Nabi s.a.w. Kalau Nabi s.a.w. telah memasuki kamar istrinya, Rabi`ah tetap berjaga-jaga di situ, di depan pintu rumah Nabi s.a.w., khawatir kalau-kalau Nabi s.a.w. membutuhkannya di malam hari.</p>
<p>Rabi`ah pernah menuturkan pengalamannya, “Sampai tengah malam, aku masih saja mendengar munajat (“bisikan mesra”) Nabi s.a.w. kepada Tuhan, Sang Pencipta dan Penganugerah: ‘Subhaanallaah wal-hamdu lillaah&#8230;.. —Mahasuci Engkau ya Allah, Maha Terpuji Engkau ya Allah’. Munajat itu terus terdengar olehku hingga aku benar-benar lelah dan pulang ke rumah, atau tertidur di situ.”</p>
<p>Nabi s.a.w. memperhatikan ketulusan hati dan kesetiaan bakti sahabatnya ini. Beliau ingin menunjukkan kepadanya, betapa beliau menghargai itu semua. Beliau ingin membalas kebaikannya itu dengan sesuatu yang benar-benar membuat sahabatnya gembira.</p>
<p>“Wahai Rabi`ah, mintalah dariku sesuatu, aku akan memberikannya kepadamu,” kata Nabi s.a.w. di suatu hari.</p>
<p>“Kalau begitu, wahai Rasul Allah, berilah aku waktu untuk berpikir. Aku akan me-nyampaikan kepada Anda apa yang aku harapkan dari Anda dalam kesempatan yang lain.”</p>
<p>Nabi s.a.w. menyambut baik gagasan tersebut. Rabi`ah pun kembali ke rumahnya. Pikirannya terus berkelana dalam renungan, Apa yang patut kuminta dari Nabi s.a.w.? Aku harus hati-hati dalam menentukan pilihan. Kesempatan yang istimewa ini tak boleh sia-sia. Kekayaan duniawikah yang kuminta, sedangkan aku tahu kefanaan jua akhirnya? Dan Allah Sendiri telah menjamin rizki setiap makhluk. Rizkiku pasti datang dan ia akan mencukupiku. Aku akan meminta dari Nabi s.a.w. sesuatu yang berkenaan dengan kehidupan akhirat yang abadi. Sesuatu yang luar biasa, dengan memanfaatkan kedudukan Nabi yang mulia dan khusus di sisi Allah SWT.</p>
<p>“Apa sudah kamu pikirkan, Rabi`ah?” tanya Nabi s.a.w. setelah kembali bertemu dan berduaan dengan sahabatnya itu.</p>
<p>“Benar wahai Rasul Allah, sudah kupikirkan dan kurenungkan. Yang kuinginkan ialah, Anda sudi memberiku syafa`at, memohonkan untukku kepada Allah agar sudi membebaskan dan menyelamatkanku dari neraka, serta aku diizinkan untuk boleh bersama dengan Anda di surga kelak.”</p>
<p>Mendengar permintaan Rabi’ah ini, Nabi s.a.w. tertegun sesaat; kemudian dengan cepat beliau bertanya:“Siapa yang menyuruhmu untuk menyampaikan permintaan tersebut?”</p>
<p>“Demi Yang telah Mengutusmu dengan segala kebenaran, tak seorang pun yang memberiku saran begitu. Aku sendirilah yang berpikir dan merenung, setelah mendapat tawaran istimewa dari Anda, wahai Rasul Allah. Aku menyadari kedudukan Anda yang istimewa di sisi Allah Yang Maha Kuasa. Haruskah kuminta darimu dunia, sedangkan kefanaan jua akhirnya? Apalagi Allah telah menjamin rizki para makhluk-Nya. Rizkiku pasti datang, dan pasti mencukupiku pula. Maka aku berkesimpulan, bahwa akhiratlah yang harus kudapatkan lewat Anda.”</p>
<p>Rasulullah s.a.w. kembali tertegun. Kali ini cukup lama beliau berdiam diri tanpa sepatah kata pun, tapi kemudian beliau berkata: “Aku pasti memenuhi permintaanmu, wahai Rabi’ah. Hanya saja bantulah aku dalam menanggulangi kekurangan-kekurangan yang ada padamu dengan cara engkau memperbanyak ibadah.”</p>
<p>Allah Maha Dermawan, tidak akan pernah mengecewakan hati yang benar-benar tulus dalam cinta. Demikian pula Rasul-Nya yang selalu berusaha meniru akhlak-Nya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.haddad-alwi.com/2008/04/09/syafa%e2%80%99at-rasulullah-harapannya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Rasulullah yang Diharapkan</title>
		<link>http://www.haddad-alwi.com/2008/04/09/doa-rasulullah-yang-diharapkan/</link>
		<comments>http://www.haddad-alwi.com/2008/04/09/doa-rasulullah-yang-diharapkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Apr 2008 03:51:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KCR</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.haddad-alwi.com/2008/04/09/doa-rasulullah-yang-diharapkan/</guid>
		<description><![CDATA[Harmalah ibn Zaid menerobos lingkaran para sahabat yang sedang mengelilingi Rasulullah s.a.w. Ia datang tiba-tiba dengan segala beban kerisauan yang terlihat di wajahnya. Ia langsung menghampiri Rasulullah dan duduk persis di hadapan beliau.
“Keimananku hanya bertumpu di sini wahai Rasul Allah.” Sambil berkata itu Harmalah mengarahkan telunjuknya ke lidahnya.“Sedangkan kemunafikan berakar di sini,” katanya kemudian, seraya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Harmalah ibn Zaid menerobos lingkaran para sahabat yang sedang mengelilingi Rasulullah s.a.w. Ia datang tiba-tiba dengan segala beban kerisauan yang terlihat di wajahnya. Ia langsung menghampiri Rasulullah dan duduk persis di hadapan beliau.</p>
<p>“Keimananku hanya bertumpu di sini wahai Rasul Allah.” Sambil berkata itu Harmalah mengarahkan telunjuknya ke lidahnya.“Sedangkan kemunafikan berakar di sini,” katanya kemudian, seraya menempelkan telapak tangannya ke dadanya. Ia lalu berkata lagi, “Hati ini, wahai Rasul Allah, tidak pernah mengingat Allah kecuali jarang-jarang. Bantulah aku hingga segera terbebas dari kerisauan yang terus membelengguku ini.”</p>
<p>Dengan lembut penuh empati Rasulullah s.a.w. menyimak dengan saksama keluhan dan pengaduan tamunya itu, namun beliau tetap tenang tanpa suara. Tak sepatah kata pun terucap dari mulut beliau yang mulia. Mungkin beliau ingin mendengarkan keluhan Harmalah ibn Zaid hingga tuntas, sebagai tanda orang itu benar-benar serius untuk bertaubat dari kemunafikan; dan ia benar-benar yakin bahwa beliaulah yang mampu memberinya rasa tentram. Ternyata Harmalah mengulangi sekali lagi keluhannya tersebut kepada Rasulullah s.a.w., dengan cara yang sama.</p>
<p>Kemudian Rasulullah s.a.w. —sambil memegang ujung lidah Harmalah— berkata dalam do’a:</p>
<p>“Duhai Tuhan Pemilik segala Sifat Maha Sempurna, anugerahkan dia lidah yang jujur, yang tiada berkata kecuali kebenaran; hati yang mampu menikmati kedermawanan-Mu dalam setiap kejadian, yang tiada berdetak kecuali dengan pujian kepada-Mu. Anugerahkanlah dia cinta kepadaku dan cinta kepada orang-orang yang mencintaiku. Dan jadikanlah semua persoalan hidupnya menuju kepada kebaikan.”</p>
<p>“Wahai Rasul Allah, aku memiliki teman-teman yang seluruhnya adalah munafik sepertiku. Aku selama ini diterima sebagai pemimpin mereka. Sudikah Anda jika kusebutkan tentang mereka satu per satu?” kata Harmalah kepada Rasulullah s.a.w.</p>
<p>“Tak perlu kamu melakukannya. Siapa saja di antara mereka yang datang kepadaku dengan penuh penyesalan, sebagaimana yang kamu lakukan ini, maka kami akan memintakan pengampunan dari Allah baginya, persis seperti yang sudah kami lakukan untuk kamu. Namun barangsiapa bersikukuh dalam kemunafikan, maka Allah jua yang paling berhak menyelesaikan persoalannya.”</p>
<p>Rasulullah s.a.w. merindukan kepulangan orang-orang yang berdosa tanpa perlu mencemarkan harga diri mereka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.haddad-alwi.com/2008/04/09/doa-rasulullah-yang-diharapkan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mahalnya Sebuah Keyakinan</title>
		<link>http://www.haddad-alwi.com/2008/02/24/artikel/</link>
		<comments>http://www.haddad-alwi.com/2008/02/24/artikel/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Feb 2008 10:46:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>KCR</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.haddad-alwi.com/2008/02/24/mahalnya-sebuah-keyakinan/</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah s.a.w. sangat menghargai perasaan dan sikap tulus yang ditunjukkan oleh  umatnya kepada beliau. Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. berminat membeli seekor kuda dari seorang Badui bernama Sawa` ibn Qais al-Muharibi, yang sedang menariknya menuju ke pasar Madinah. Tawar-menawar antara keduanya berlangsung, dan transaksi jual-beli pun terjadi. Rasul s.a.w. segera menuju ke rumah beliau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Rasulullah s.a.w. sangat menghargai perasaan dan sikap tulus yang ditunjukkan oleh  umatnya kepada beliau. Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. berminat membeli seekor kuda dari seorang Badui bernama Sawa` ibn Qais al-Muharibi, yang sedang menariknya menuju ke pasar Madinah. Tawar-menawar antara keduanya berlangsung, dan transaksi jual-beli pun terjadi. Rasul s.a.w. segera menuju ke rumah beliau untuk mengambil uang pembayaran harga kuda tersebut.  Beliau berjalan cepat menuju ke rumah, dan meminta Sawa` ibn Qais untuk mengikutinya. Namun si pemilik kuda hanya berjalan santai, sengaja memperlambat langkahnya. Bahkan ia masih saja terus melayani setiap orang yang berpapasan dengannya yang menawar kuda bawaannya itu. Mereka tidak tahu bahwa kuda itu sudah laku terjual kepada Rasulullah s.a.w.</p>
<p>Dalam perjalanan itu Sawa` ibn Qais al-Muharibi mendapatkan pembeli lain yang berani membayar lebih tinggi dari harga yang telah disepakatinya dengan Rasulullah s.a.w. Maka ia pun bergegas menyusul Rasulullah, dan menghampiri beliau seraya berkata: “Apakah Anda jadi membelinya? Kalau tidak, biarlah aku menjualnya kepada orang lain.”</p>
<p>Rasulullah s.a.w. kini menyadari kenapa Sawa` ibn Qais tidak mau berjalan bersama-sama dengannya. Rupanya sesuatu yang tak diharapkan telah terjadi. Namun beliau tetap tenang dan ramah sebagaimana sikap beliau kepada setiap orang.</p>
<p>“Lho, bukankah engkau telah menjualnya kepadaku? Dan sekarang ini kita sedang menuju kediamanku. Aku akan membayar kepadamu harga yang telah kita sepakati bersama tadi,” jawab Rasulullah kepadanya dengan lembut.</p>
<p>“Ah, Anda keliru. Demi Allah, aku memang memutuskan menjualnya kepada Anda, tapi tidak ada harga yang kita sepakati bersama.”</p>
<p>“Kenapa secepat itu kamu menjadi pelupa?” Rasulullah s.a.w. membujuknya agar kembali bersikap jujur.</p>
<p>Sawa’ ibn Qais ngotot, “Tidak, itu tidak benar. Aku belum menjual kudaku ini kepadamu. Sekarang aku telah mendapatkan orang lain yang memberi penawaran yang lebih tinggi dari penawaranmu. Kalau Anda bersedia membayar seperti yang ia tawarkan, silakan. Kalau tidak&#8230;. ya terpaksa kujual kudaku ini kepada orang itu,” begitu ancamnya.</p>
<p>Mendengar ada perselisihan, orang-orang yang berada di lokasi itu mulai berdatangan mendekati mereka berdua, dan akhirnya kasus itu merebak luas. Mengetahui duduk persoalannya, beberapa sahabat Rasulullah yang kebetulan ada di tempat itu merasa ada kejanggalan dalam diri Sawa’ ibn Qais; mereka heran kenapa Sawa’ ibn Qais tega memperlakukan Rasulullah seperti itu? Namun mereka tidak dapat berbuat banyak karena Rasulullah s.a.w. sendiri tampak tetap lemah-lembut dan berwajah ceria kepada Ibn Qais.</p>
<p>“Bukankah tidak boleh kamu menjual sesuatu yang sudah kamu jual kepada orang lain, karena barang itu sudah menjadi milik orang tersebut?” Rasulullah s.a.w. membujuknya.</p>
<p>“Tidak, aku tidak pernah menjual kudaku ini kepada Anda. Kalau Anda keberatan, silakan datangkan saksi yang dapat membuktikan kebenaran dakwaan Anda ini,” tegas Ibn Qais kepada Rasulullah s.a.w.</p>
<p>Para sahabat Rasulullah terperanjat mendengar ucapan Ibn Qais yang terakhir ini; mereka bagaikan tersambar gledek.</p>
<p>“Celaka kamu. Tidakkah kamu menyadari sedang berbicara dengan siapa kamu sekarang ini? Ini Rasul Allah. Mustahil beliau mengucapkan sesuatu yang tidak benar!”</p>
<p>Rasulullah s.a.w. tetap saja tenang dan lembut dalam menghadapi persoalan itu. Pertengkaran justru mulai terjadi antara para sahabat dengan Sawa’ ibn Qais.</p>
<p>“Aku tidak akan menyerah begitu saja kepada kalian,” kata Ibn Qais, “dia harus menghadirkan saksi yang membenarkan pengakuannya! Titik.”</p>
<p>Sawa’ ibn Qais  mantap sekali. Ia amat yakin tidak seorang pun dapat memberikan kesaksian yang membuatnya tunduk kepada kebenaran, karena tak satu manusia pun bersama mereka ketika terjadi transaksi jual-beli tersebut.</p>
<p>Betapa kesal hati para sahabat menyaksikan gelagat orang Ibn Qais. Mereka tidak meragukan sedikit pun bahwa ia berbohong tetapi tak sudi menyerah. Mereka bingung, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap orang Badui itu. Apalagi menyaksikan Rasul s.a.w. yang tetap tenang dan lembut.</p>
<p>Tiba-tiba muncul seseorang dan bergabung ke dalam kerumunan orang-orang itu. Khuzaimah al-Anshari, namanya. Setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, ia spontan berkata tanpa basa-basi, “Aku saksinya. Akulah yang melihat, mendengar, dan menyaksikan bahwa Rasul s.a.w. benar-benar telah membeli kuda ini darimu, dan kamu telah menjualnya kepada beliau.”</p>
<p>Mendengar pernyataan Khuzaimah yang meluncur bagaikan anak panah ini, mulut Ibn Qais langsung menjadi terkatup. Tidak mampu lagi ia berkutik. Apa yang menjadi tuntutannya sudah terpenuhi. Ia pun menyerah kepada kebenaran yang ia khianati.</p>
<p>Namun kini giliran Rasulullah s.a.w. yang mengajukan pertanyaan kepada Khuzaimah, “Gerangan apakah yang mendorongmu membuat kesaksian seperti itu, padahal kamu tidak hadir bersama aku dan orang itu ketika terjadi transaksi jual-beli yang diingkarinya itu?”</p>
<p>“Wahai Rasulallah —semoga salam, rahmat, shalawat dan berkat Ilahi tetap tercurah atasmu sekeluarga— aku menjadi saksi atas kebenaran semua pernyataanmu tentang berita-berita besar yang Anda terima dari Sang Pencipta alam semesta, Penguasa dunia dan akhirat. Maka gerangan apakah sebabnya yang membuatku tidak menjadi saksi atas kebenaran pernyataanmu tentang transaksi jual-beli seekor kuda?”</p>
<p>Rasulullah tertegun mendengar pernyataan sahabatnya yang tulus itu; yang mampu secara spontan menerjemahkan keimanannya terhadap kenabian beliau secara sederhana tapi gamblang. Rasul s.a.w. —yang selalu menghargai cinta dan ketulusan orang lain dengan cinta dan ketulusan yang lebih besar— langsung bersabda: “Kesaksian Khuzaimah senilai kesaksian dua orang jujur dari umatku. Barangsiapa yang Khuzaimah memberikan kesaksian atas keabsahan dakwaannya atau kebatilan tuntutannya, maka cukuplah yang demikian itu menjadi sandaran yang adil bagi sebuah putusan yang benar.”</p>
<p>Tidak ada keraguan sama sekali bahwa ketulusan Khuzaimah tersebut adalah bagian dari sikap penghambaannya kepada Allah SWT. Karena itulah Allah SWT memberikan penghargaan kepadanya dengan mengizinkannya bersujud kepada-Nya di atas hamparan yang tersuci dari seluruh ciptaan-Nya yang suci.</p>
<p>Di suatu pagi, Khuzaimah berkata kepada Rasulullah s.a.w., “Wahai Rasulallah, semalam aku mimpi bersujud di atas dahimu.”</p>
<p>Maka dengan serta-merta Rasul yang mulia itu bertelentang, dan dengan penuh kelembutan beliau berkata kepada sahabatnya itu: “Ayo, realisasikanlah mimpi itu. Buktikanlah bahwa yang engkau alami dan engkau saksikan semalam adalah suatu kebenaran.” Maka bersujudlah Khuzaimah al-Anshari kepada Allah di hamparan tersuci itu, di atas dahi Rasulullah s.a.w.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.haddad-alwi.com/2008/02/24/artikel/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
