Syafa’at Rasulullah Harapannya
Dengan hati tulus penuh cinta, Rabi`ah mengabdikan diri kepada Rasulullah s.a.w. Seharian, dari pagi hingga petang, ia terus-menerus berada di tempat Nabi s.a.w. berada; memenuhi kebutuhan beliau, melaksanakan apa saja yang dikehendaki oleh beliau dan keluarga. Bahkan setelah melaksanakan shalat ‘Isya sekalipun, ia tidak meninggalkan kediaman Nabi s.a.w. Kalau Nabi s.a.w. telah memasuki kamar istrinya, Rabi`ah tetap berjaga-jaga di situ, di depan pintu rumah Nabi s.a.w., khawatir kalau-kalau Nabi s.a.w. membutuhkannya di malam hari.
Rabi`ah pernah menuturkan pengalamannya, “Sampai tengah malam, aku masih saja mendengar munajat (“bisikan mesra”) Nabi s.a.w. kepada Tuhan, Sang Pencipta dan Penganugerah: ‘Subhaanallaah wal-hamdu lillaah….. —Mahasuci Engkau ya Allah, Maha Terpuji Engkau ya Allah’. Munajat itu terus terdengar olehku hingga aku benar-benar lelah dan pulang ke rumah, atau tertidur di situ.”
Nabi s.a.w. memperhatikan ketulusan hati dan kesetiaan bakti sahabatnya ini. Beliau ingin menunjukkan kepadanya, betapa beliau menghargai itu semua. Beliau ingin membalas kebaikannya itu dengan sesuatu yang benar-benar membuat sahabatnya gembira.
“Wahai Rabi`ah, mintalah dariku sesuatu, aku akan memberikannya kepadamu,” kata Nabi s.a.w. di suatu hari.
“Kalau begitu, wahai Rasul Allah, berilah aku waktu untuk berpikir. Aku akan me-nyampaikan kepada Anda apa yang aku harapkan dari Anda dalam kesempatan yang lain.”
Nabi s.a.w. menyambut baik gagasan tersebut. Rabi`ah pun kembali ke rumahnya. Pikirannya terus berkelana dalam renungan, Apa yang patut kuminta dari Nabi s.a.w.? Aku harus hati-hati dalam menentukan pilihan. Kesempatan yang istimewa ini tak boleh sia-sia. Kekayaan duniawikah yang kuminta, sedangkan aku tahu kefanaan jua akhirnya? Dan Allah Sendiri telah menjamin rizki setiap makhluk. Rizkiku pasti datang dan ia akan mencukupiku. Aku akan meminta dari Nabi s.a.w. sesuatu yang berkenaan dengan kehidupan akhirat yang abadi. Sesuatu yang luar biasa, dengan memanfaatkan kedudukan Nabi yang mulia dan khusus di sisi Allah SWT.
“Apa sudah kamu pikirkan, Rabi`ah?” tanya Nabi s.a.w. setelah kembali bertemu dan berduaan dengan sahabatnya itu.
“Benar wahai Rasul Allah, sudah kupikirkan dan kurenungkan. Yang kuinginkan ialah, Anda sudi memberiku syafa`at, memohonkan untukku kepada Allah agar sudi membebaskan dan menyelamatkanku dari neraka, serta aku diizinkan untuk boleh bersama dengan Anda di surga kelak.”
Mendengar permintaan Rabi’ah ini, Nabi s.a.w. tertegun sesaat; kemudian dengan cepat beliau bertanya:“Siapa yang menyuruhmu untuk menyampaikan permintaan tersebut?”
“Demi Yang telah Mengutusmu dengan segala kebenaran, tak seorang pun yang memberiku saran begitu. Aku sendirilah yang berpikir dan merenung, setelah mendapat tawaran istimewa dari Anda, wahai Rasul Allah. Aku menyadari kedudukan Anda yang istimewa di sisi Allah Yang Maha Kuasa. Haruskah kuminta darimu dunia, sedangkan kefanaan jua akhirnya? Apalagi Allah telah menjamin rizki para makhluk-Nya. Rizkiku pasti datang, dan pasti mencukupiku pula. Maka aku berkesimpulan, bahwa akhiratlah yang harus kudapatkan lewat Anda.”
Rasulullah s.a.w. kembali tertegun. Kali ini cukup lama beliau berdiam diri tanpa sepatah kata pun, tapi kemudian beliau berkata: “Aku pasti memenuhi permintaanmu, wahai Rabi’ah. Hanya saja bantulah aku dalam menanggulangi kekurangan-kekurangan yang ada padamu dengan cara engkau memperbanyak ibadah.”
Allah Maha Dermawan, tidak akan pernah mengecewakan hati yang benar-benar tulus dalam cinta. Demikian pula Rasul-Nya yang selalu berusaha meniru akhlak-Nya.
Posted on April 9th, 2008 | By: KCR | Filed under Kisah
Doa Rasulullah yang Diharapkan
Harmalah ibn Zaid menerobos lingkaran para sahabat yang sedang mengelilingi Rasulullah s.a.w. Ia datang tiba-tiba dengan segala beban kerisauan yang terlihat di wajahnya. Ia langsung menghampiri Rasulullah dan duduk persis di hadapan beliau.
“Keimananku hanya bertumpu di sini wahai Rasul Allah.” Sambil berkata itu Harmalah mengarahkan telunjuknya ke lidahnya.“Sedangkan kemunafikan berakar di sini,” katanya kemudian, seraya menempelkan telapak tangannya ke dadanya. Ia lalu berkata lagi, “Hati ini, wahai Rasul Allah, tidak pernah mengingat Allah kecuali jarang-jarang. Bantulah aku hingga segera terbebas dari kerisauan yang terus membelengguku ini.”
Dengan lembut penuh empati Rasulullah s.a.w. menyimak dengan saksama keluhan dan pengaduan tamunya itu, namun beliau tetap tenang tanpa suara. Tak sepatah kata pun terucap dari mulut beliau yang mulia. Mungkin beliau ingin mendengarkan keluhan Harmalah ibn Zaid hingga tuntas, sebagai tanda orang itu benar-benar serius untuk bertaubat dari kemunafikan; dan ia benar-benar yakin bahwa beliaulah yang mampu memberinya rasa tentram. Ternyata Harmalah mengulangi sekali lagi keluhannya tersebut kepada Rasulullah s.a.w., dengan cara yang sama.
Kemudian Rasulullah s.a.w. —sambil memegang ujung lidah Harmalah— berkata dalam do’a:
“Duhai Tuhan Pemilik segala Sifat Maha Sempurna, anugerahkan dia lidah yang jujur, yang tiada berkata kecuali kebenaran; hati yang mampu menikmati kedermawanan-Mu dalam setiap kejadian, yang tiada berdetak kecuali dengan pujian kepada-Mu. Anugerahkanlah dia cinta kepadaku dan cinta kepada orang-orang yang mencintaiku. Dan jadikanlah semua persoalan hidupnya menuju kepada kebaikan.”
“Wahai Rasul Allah, aku memiliki teman-teman yang seluruhnya adalah munafik sepertiku. Aku selama ini diterima sebagai pemimpin mereka. Sudikah Anda jika kusebutkan tentang mereka satu per satu?” kata Harmalah kepada Rasulullah s.a.w.
“Tak perlu kamu melakukannya. Siapa saja di antara mereka yang datang kepadaku dengan penuh penyesalan, sebagaimana yang kamu lakukan ini, maka kami akan memintakan pengampunan dari Allah baginya, persis seperti yang sudah kami lakukan untuk kamu. Namun barangsiapa bersikukuh dalam kemunafikan, maka Allah jua yang paling berhak menyelesaikan persoalannya.”
Rasulullah s.a.w. merindukan kepulangan orang-orang yang berdosa tanpa perlu mencemarkan harga diri mereka.
Posted on April 9th, 2008 | By: KCR | Filed under Kisah
Mahalnya Sebuah Keyakinan
Rasulullah s.a.w. sangat menghargai perasaan dan sikap tulus yang ditunjukkan oleh umatnya kepada beliau. Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. berminat membeli seekor kuda dari seorang Badui bernama Sawa` ibn Qais al-Muharibi, yang sedang menariknya menuju ke pasar Madinah. Tawar-menawar antara keduanya berlangsung, dan transaksi jual-beli pun terjadi. Rasul s.a.w. segera menuju ke rumah beliau untuk mengambil uang pembayaran harga kuda tersebut. Beliau berjalan cepat menuju ke rumah, dan meminta Sawa` ibn Qais untuk mengikutinya. Namun si pemilik kuda hanya berjalan santai, sengaja memperlambat langkahnya. Bahkan ia masih saja terus melayani setiap orang yang berpapasan dengannya yang menawar kuda bawaannya itu. Mereka tidak tahu bahwa kuda itu sudah laku terjual kepada Rasulullah s.a.w.
Dalam perjalanan itu Sawa` ibn Qais al-Muharibi mendapatkan pembeli lain yang berani membayar lebih tinggi dari harga yang telah disepakatinya dengan Rasulullah s.a.w. Maka ia pun bergegas menyusul Rasulullah, dan menghampiri beliau seraya berkata: “Apakah Anda jadi membelinya? Kalau tidak, biarlah aku menjualnya kepada orang lain.”
Rasulullah s.a.w. kini menyadari kenapa Sawa` ibn Qais tidak mau berjalan bersama-sama dengannya. Rupanya sesuatu yang tak diharapkan telah terjadi. Namun beliau tetap tenang dan ramah sebagaimana sikap beliau kepada setiap orang.
“Lho, bukankah engkau telah menjualnya kepadaku? Dan sekarang ini kita sedang menuju kediamanku. Aku akan membayar kepadamu harga yang telah kita sepakati bersama tadi,” jawab Rasulullah kepadanya dengan lembut.
“Ah, Anda keliru. Demi Allah, aku memang memutuskan menjualnya kepada Anda, tapi tidak ada harga yang kita sepakati bersama.”
“Kenapa secepat itu kamu menjadi pelupa?” Rasulullah s.a.w. membujuknya agar kembali bersikap jujur.
Sawa’ ibn Qais ngotot, “Tidak, itu tidak benar. Aku belum menjual kudaku ini kepadamu. Sekarang aku telah mendapatkan orang lain yang memberi penawaran yang lebih tinggi dari penawaranmu. Kalau Anda bersedia membayar seperti yang ia tawarkan, silakan. Kalau tidak…. ya terpaksa kujual kudaku ini kepada orang itu,” begitu ancamnya.
Mendengar ada perselisihan, orang-orang yang berada di lokasi itu mulai berdatangan mendekati mereka berdua, dan akhirnya kasus itu merebak luas. Mengetahui duduk persoalannya, beberapa sahabat Rasulullah yang kebetulan ada di tempat itu merasa ada kejanggalan dalam diri Sawa’ ibn Qais; mereka heran kenapa Sawa’ ibn Qais tega memperlakukan Rasulullah seperti itu? Namun mereka tidak dapat berbuat banyak karena Rasulullah s.a.w. sendiri tampak tetap lemah-lembut dan berwajah ceria kepada Ibn Qais.
“Bukankah tidak boleh kamu menjual sesuatu yang sudah kamu jual kepada orang lain, karena barang itu sudah menjadi milik orang tersebut?” Rasulullah s.a.w. membujuknya.
“Tidak, aku tidak pernah menjual kudaku ini kepada Anda. Kalau Anda keberatan, silakan datangkan saksi yang dapat membuktikan kebenaran dakwaan Anda ini,” tegas Ibn Qais kepada Rasulullah s.a.w.
Para sahabat Rasulullah terperanjat mendengar ucapan Ibn Qais yang terakhir ini; mereka bagaikan tersambar gledek.
“Celaka kamu. Tidakkah kamu menyadari sedang berbicara dengan siapa kamu sekarang ini? Ini Rasul Allah. Mustahil beliau mengucapkan sesuatu yang tidak benar!”
Rasulullah s.a.w. tetap saja tenang dan lembut dalam menghadapi persoalan itu. Pertengkaran justru mulai terjadi antara para sahabat dengan Sawa’ ibn Qais.
“Aku tidak akan menyerah begitu saja kepada kalian,” kata Ibn Qais, “dia harus menghadirkan saksi yang membenarkan pengakuannya! Titik.”
Sawa’ ibn Qais mantap sekali. Ia amat yakin tidak seorang pun dapat memberikan kesaksian yang membuatnya tunduk kepada kebenaran, karena tak satu manusia pun bersama mereka ketika terjadi transaksi jual-beli tersebut.
Betapa kesal hati para sahabat menyaksikan gelagat orang Ibn Qais. Mereka tidak meragukan sedikit pun bahwa ia berbohong tetapi tak sudi menyerah. Mereka bingung, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap orang Badui itu. Apalagi menyaksikan Rasul s.a.w. yang tetap tenang dan lembut.
Tiba-tiba muncul seseorang dan bergabung ke dalam kerumunan orang-orang itu. Khuzaimah al-Anshari, namanya. Setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, ia spontan berkata tanpa basa-basi, “Aku saksinya. Akulah yang melihat, mendengar, dan menyaksikan bahwa Rasul s.a.w. benar-benar telah membeli kuda ini darimu, dan kamu telah menjualnya kepada beliau.”
Mendengar pernyataan Khuzaimah yang meluncur bagaikan anak panah ini, mulut Ibn Qais langsung menjadi terkatup. Tidak mampu lagi ia berkutik. Apa yang menjadi tuntutannya sudah terpenuhi. Ia pun menyerah kepada kebenaran yang ia khianati.
Namun kini giliran Rasulullah s.a.w. yang mengajukan pertanyaan kepada Khuzaimah, “Gerangan apakah yang mendorongmu membuat kesaksian seperti itu, padahal kamu tidak hadir bersama aku dan orang itu ketika terjadi transaksi jual-beli yang diingkarinya itu?”
“Wahai Rasulallah —semoga salam, rahmat, shalawat dan berkat Ilahi tetap tercurah atasmu sekeluarga— aku menjadi saksi atas kebenaran semua pernyataanmu tentang berita-berita besar yang Anda terima dari Sang Pencipta alam semesta, Penguasa dunia dan akhirat. Maka gerangan apakah sebabnya yang membuatku tidak menjadi saksi atas kebenaran pernyataanmu tentang transaksi jual-beli seekor kuda?”
Rasulullah tertegun mendengar pernyataan sahabatnya yang tulus itu; yang mampu secara spontan menerjemahkan keimanannya terhadap kenabian beliau secara sederhana tapi gamblang. Rasul s.a.w. —yang selalu menghargai cinta dan ketulusan orang lain dengan cinta dan ketulusan yang lebih besar— langsung bersabda: “Kesaksian Khuzaimah senilai kesaksian dua orang jujur dari umatku. Barangsiapa yang Khuzaimah memberikan kesaksian atas keabsahan dakwaannya atau kebatilan tuntutannya, maka cukuplah yang demikian itu menjadi sandaran yang adil bagi sebuah putusan yang benar.”
Tidak ada keraguan sama sekali bahwa ketulusan Khuzaimah tersebut adalah bagian dari sikap penghambaannya kepada Allah SWT. Karena itulah Allah SWT memberikan penghargaan kepadanya dengan mengizinkannya bersujud kepada-Nya di atas hamparan yang tersuci dari seluruh ciptaan-Nya yang suci.
Di suatu pagi, Khuzaimah berkata kepada Rasulullah s.a.w., “Wahai Rasulallah, semalam aku mimpi bersujud di atas dahimu.”
Maka dengan serta-merta Rasul yang mulia itu bertelentang, dan dengan penuh kelembutan beliau berkata kepada sahabatnya itu: “Ayo, realisasikanlah mimpi itu. Buktikanlah bahwa yang engkau alami dan engkau saksikan semalam adalah suatu kebenaran.” Maka bersujudlah Khuzaimah al-Anshari kepada Allah di hamparan tersuci itu, di atas dahi Rasulullah s.a.w.
Posted on February 24th, 2008 | By: KCR | Filed under Kisah
“La Tuzrimuhu”
Seorang pendidik yang bijaksana akan memperhatikan segala hal yang berhubungan dengan anak didiknya dari segi intelektual, emosional, kesehatan fisik, dan persiapan mentalnya. Ia akan memilih cara yang paling tepat, aman dan bijaksana bagi setiap anak didik yang akan dicerahkan. Dasarnya adalah kelembutan.
Pada suatu hari, ketika Rasulullah s.a.w. dan sejumlah sahabat sedang berada di masjid beliau di Madinah, tiba-tiba muncul seorang Arab Badui. Ia langsung menuju ke salah satu pojok masjid. Apa yang ia lakukan di situ? Sungguh luar biasa: ia membuang air seninya. Kontan saja para sahabat dengan serentak membentak: “Hei, berhenti, berhenti….jangan kamu kencing di masjid.” Mereka kaget dan sangat berang.
Orang Arab Badui itu juga kaget dan bingung, ia tidak membayangkan akan diperlakukan begitu. Rasulullah s.a.w. yang juga menyaksikan peristiwa itu, tentunya ikut terkejut. Namun beliau mampu menguasai emosi. Dengan cepat beliau berkata, menegur para sahabat: “L? tuzrim?hu. Jangan kalian kagetkan ia; jangan kalian ganggu dan potong kelancaran kencingnya.”
Kini para sahabat yang kaget dan heran mendengar instruksi Rasulullah tersebut, namun mereka mematuhinya dengan tulus. Orang Badui itu pun kembali melanjutkan kencingnya hingga benar-benar selesai. Kemudian Rasul s.a.w. memanggilnya, dan dengan segala kelembutan beliau berkata memberinya pelajaran: “Rumah-rumah Allah tidak tepat untuk dijadikan tempat buang air kecil dan segala sesuatu yang bersifat najis. Rumah-rumah Allah hanya difungsikan untuk ibadah dan berdzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al-Qur’an.”
Kemudian beliau menugaskan salah seorang dari sahabat untuk mengambil seember air dan membersihkan bagian masjid yang ternajis oleh kencing orang Badui itu dengan menggunakan air yang dibawanya.
Demikianlah akhlak Nabi yang mulia. Dengan kepala dingin dan berfikir jernih penuh kelembutan, beliau mengatasi persoalan yang tak menyenangkan dengan cara yang simpatik. Coba bayangkan apa yang bakal terjadi seandainya beliau biarkan saja di antara sahabat ada yang bertindak keras kepada Arab Badui yang bodoh dan tidak berbudaya tersebut? Boleh jadi kaget dan takut yang diakibatkan oleh teriakan dan bahkan “pukulan” —bila dibiarkan oleh Rasulullah— akan berakibat buruk pada kesehatan orang itu karena harus menghentikan penyaluran air seni yang sedang meluncur lancar. Boleh jadi pula ketakutan akan membuat orang Badui itu lari meninggalkan posisinya sehingga air seninya tercecer ke berbagai tempat. Jika itu yang terjadi, sudah pasti air seember tak akan cukup untuk membersihkan masjid dari najis-najis yang ditinggalkannya; dan tidak cukup pula untuk ditangani oleh hanya seorang sahabat.
Lebih penting dari itu semua ialah implikasi negatif yang ditimbulkan oleh citra buruk tentang Islam yang bakal tertanam dalam hati si Badui yang ketakutan itu; baginya Islam adalah kasar, tidak bersahabat, sok suci dan lain-lain…..boleh jadi ia tidak akan pernah tertarik lagi dengan masjid, Islam dan Nabi-Nya. Siapakah yang berdosa, orang bodoh yang tidak tahu adat-istiadat atau orang mengerti yang kasar dan tidak empati? Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sungguh Islam ini mantap, mengagumkan, spektakuler…….. maka perkenalkanlah ia dengan penuh kelembutan.”
Posted on February 24th, 2008 | By: KCR | Filed under Kisah
Cinta Tulus yang Merasuk ke dalam Jiwa
Tsauban, namanya; seorang pemuda yang tertawan dan menjadi budak akibat kekalahan yang dialami kaumnya di suatu peperangan. Ia dibeli oleh Rasulullah s.a.w. yang kemudian memerdekakannya. Tetapi kemerdekaan yang telah dimilikinya kembali tidak pernah membuatnya pergi meninggalkan sosok yang memerdekakannya. Ia bahkan makin bertambah cinta kepada Rasulullah yang menjadi sebab keislaman dan kemerdekaannya itu. Ia bahkan telah berikrar untuk mengabdikan diri kepada Rasulullah s.a.w. selama hidupnya.
Tsauban sangat sentimentil dalam cintanya kepada Rasulullah, sehingga ia tidak sanggup berpisah lama dengan beliau. Namun tidak selamanya pencinta dan sang kekasih dapat bersama-sama; perpisahan dengan orang yang dicintai kadang-kadang harus terjadi, walau hanya untuk beberapa saat. Itulah derita yang dialami oleh Tsauban dari waktu ke waktu.
Pada suatu hari Tsauban kembali muncul di hadapan Rasulullah s.a.w. Namun dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya makin mengurus, dan kesedihan tampak jelas mewarnai seluruh raut wajahnya.
“Gerangan apakah yang membuatmu kelihatan begitu sengsara, Tsauban?” tanya Rasulullah kepadanya.
“Sebenarnya badannya sehat-sehat saja, tidak ada suatu penyakit pun yang kurasakan. Namun, wahai Rasul Allah, apabila aku tidak menyaksikan wajah Anda untuk beberapa saat, niscaya aku dirundung kerinduan dan langsung merasa kesepian dan kemeranaan yang luar luar biasa, sampai aku kembali berjumpa dengan Anda. Aku sangat mencintai Anda; cinta yang lebih besar dan lebih luhur daripada cintaku kepada anak, istri dan diriku sendiri, sehingga aku tidak akan mampu berpisah lama dari Anda. Bayangan wajah Anda terus saja di pelupuk mataku, walaupun aku sedang bercengkrama dengan anggota keluargaku. Ingatanku kepada Anda terlalu merasuk di hati, tidak tertahankan olehku, sampai aku kembali menyaksikan kesejukan wajah Anda. Terlintas keyakinan di benakku, bila perjumpaan tertunda lebih lama lagi, niscaya nyawaku akan segera tercabut bersama memuncaknya rinduku.”
Tsauban tidak mampu melanjutkan pembicaraan yang kelihatannya belum selesai. Air matanya tak tertahan lagi, jatuh berderai bersama isak tangisnya yang mulai menggema.
“Kenapa pula kamu menangis sekarang, bukankah kita telah bersama lagi?” kata Rasulullah membujuknya.
“Terbayang olehku sekarang ini, tentang kematianku dan kematian Anda. Kerinduan dan kemeranaanku di dunia ini memang dapat kuatasi dengan datang menemui Anda. Aku sangat khawatir bahwa penyelesaian yang sama terhadap masalahku ini tak akan terjadi di kehidupan akhirat. Kusadari benar, bahwa kedudukan Anda di surga nanti, akan ditinggikan Allah sedemikian rupa, sehingga tidak ada yang dapat menemui dan menemani Anda kecuali para nabi saja. Kecilnya kemungkinanku untuk dapat bersama Anda di akhirat nanti telah membuat hidupku amat sengsara sekarang ini.”
Dengan penuh empati Rasulullah s.a.w. menyimak rintihan jiwa dari seorang sahabat yang sangat mencintainya. Namun tak sepatah kata pun yang dapat beliau ucapkan. Tersirat di dalamnya sesuatu, yang beliau sendiri tidak berwenang untuk berkomentar. Rasulullah s.a.w. hanya mampu menunjukkan betapa beliau sangat menghormati cinta yang luhur, dan merasakan kesedihan yang sama seperti yang dialami sahabatnya itu.
Untungnya, keresahan itu tidak dibiarkan oleh Allah berlarut-larut di hati para pecinta sejati. Dia segera mengakhirinya dengan kedamaian yang menyejukkan dengan menurunkan firman-Nya yang merupakan jawaban atas keresahan para pencinta Rasulullah:
Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan selalu bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada`, dan orang-orang salih; mereka itulah sebaik-baiknya teman. Yang demikian itu adalah karunia Allah, dan cukuplah Allah Maha Mengetahui. (QS An-Nisa’ [4]:69-70)
Apa yang dirasakan oleh Tsauban terhadap pribadi Rasulullah s.a.w. ini juga dialami oleh banyak sahabat dan umat beliau di sepanjang zaman. Oleh karena itu, berita gembira tentang anugerah Allah seperti yang tersebut di dalam ayat di atas berlaku untuk semua kaum Muslimin, tanpa kecuali.
Diriwayatkan bahwa di saat Rasulullah s.a.w. menghembuskan nafasnya yang terakhir, Tsauban sedang berada bersama seseorang —yang juga sangat cinta kepada Rasulullah— di sebuah kebun. Ketika berita duka itu sampai ke telinga Tsauban, ia tidak mampu membendung rasa dukanya. Sedemikian berat kesedihannya sehingga dengan penuh keseriusan ia menyampaikan harapan dalam doanya kepada Allah SWT:
“Aduhai Tuhan Pemilik semua Sifat Maha Sempurna, butakanlah mataku ini agar aku tidak menyaksikan apa pun setelah kepergian Nabiku, hingga saat aku berjumpa dengan-Mu.”
Karena ketulusanya, Allah SWT mengabulkan doa itu; mata Tsauban langsung menjadi buta, sebelum ia beranjak dari tempatnya.
Posted on February 24th, 2008 | By: KCR | Filed under Kisah