Syafa’at Rasulullah Harapannya
Dengan hati tulus penuh cinta, Rabi`ah mengabdikan diri kepada Rasulullah s.a.w. Seharian, dari pagi hingga petang, ia terus-menerus berada di tempat Nabi s.a.w. berada; memenuhi kebutuhan beliau, melaksanakan apa saja yang dikehendaki oleh beliau dan keluarga. Bahkan setelah melaksanakan shalat ‘Isya sekalipun, ia tidak meninggalkan kediaman Nabi s.a.w. Kalau Nabi s.a.w. telah memasuki kamar istrinya, Rabi`ah tetap berjaga-jaga di situ, di depan pintu rumah Nabi s.a.w., khawatir kalau-kalau Nabi s.a.w. membutuhkannya di malam hari.
Rabi`ah pernah menuturkan pengalamannya, “Sampai tengah malam, aku masih saja mendengar munajat (“bisikan mesra”) Nabi s.a.w. kepada Tuhan, Sang Pencipta dan Penganugerah: ‘Subhaanallaah wal-hamdu lillaah….. —Mahasuci Engkau ya Allah, Maha Terpuji Engkau ya Allah’. Munajat itu terus terdengar olehku hingga aku benar-benar lelah dan pulang ke rumah, atau tertidur di situ.”
Nabi s.a.w. memperhatikan ketulusan hati dan kesetiaan bakti sahabatnya ini. Beliau ingin menunjukkan kepadanya, betapa beliau menghargai itu semua. Beliau ingin membalas kebaikannya itu dengan sesuatu yang benar-benar membuat sahabatnya gembira.
“Wahai Rabi`ah, mintalah dariku sesuatu, aku akan memberikannya kepadamu,” kata Nabi s.a.w. di suatu hari.
“Kalau begitu, wahai Rasul Allah, berilah aku waktu untuk berpikir. Aku akan me-nyampaikan kepada Anda apa yang aku harapkan dari Anda dalam kesempatan yang lain.”
Nabi s.a.w. menyambut baik gagasan tersebut. Rabi`ah pun kembali ke rumahnya. Pikirannya terus berkelana dalam renungan, Apa yang patut kuminta dari Nabi s.a.w.? Aku harus hati-hati dalam menentukan pilihan. Kesempatan yang istimewa ini tak boleh sia-sia. Kekayaan duniawikah yang kuminta, sedangkan aku tahu kefanaan jua akhirnya? Dan Allah Sendiri telah menjamin rizki setiap makhluk. Rizkiku pasti datang dan ia akan mencukupiku. Aku akan meminta dari Nabi s.a.w. sesuatu yang berkenaan dengan kehidupan akhirat yang abadi. Sesuatu yang luar biasa, dengan memanfaatkan kedudukan Nabi yang mulia dan khusus di sisi Allah SWT.
“Apa sudah kamu pikirkan, Rabi`ah?” tanya Nabi s.a.w. setelah kembali bertemu dan berduaan dengan sahabatnya itu.
“Benar wahai Rasul Allah, sudah kupikirkan dan kurenungkan. Yang kuinginkan ialah, Anda sudi memberiku syafa`at, memohonkan untukku kepada Allah agar sudi membebaskan dan menyelamatkanku dari neraka, serta aku diizinkan untuk boleh bersama dengan Anda di surga kelak.”
Mendengar permintaan Rabi’ah ini, Nabi s.a.w. tertegun sesaat; kemudian dengan cepat beliau bertanya:“Siapa yang menyuruhmu untuk menyampaikan permintaan tersebut?”
“Demi Yang telah Mengutusmu dengan segala kebenaran, tak seorang pun yang memberiku saran begitu. Aku sendirilah yang berpikir dan merenung, setelah mendapat tawaran istimewa dari Anda, wahai Rasul Allah. Aku menyadari kedudukan Anda yang istimewa di sisi Allah Yang Maha Kuasa. Haruskah kuminta darimu dunia, sedangkan kefanaan jua akhirnya? Apalagi Allah telah menjamin rizki para makhluk-Nya. Rizkiku pasti datang, dan pasti mencukupiku pula. Maka aku berkesimpulan, bahwa akhiratlah yang harus kudapatkan lewat Anda.”
Rasulullah s.a.w. kembali tertegun. Kali ini cukup lama beliau berdiam diri tanpa sepatah kata pun, tapi kemudian beliau berkata: “Aku pasti memenuhi permintaanmu, wahai Rabi’ah. Hanya saja bantulah aku dalam menanggulangi kekurangan-kekurangan yang ada padamu dengan cara engkau memperbanyak ibadah.”
Allah Maha Dermawan, tidak akan pernah mengecewakan hati yang benar-benar tulus dalam cinta. Demikian pula Rasul-Nya yang selalu berusaha meniru akhlak-Nya.
Posted on April 9th, 2008 | By: KCR | Filed under Kisah
Doa Rasulullah yang Diharapkan
Harmalah ibn Zaid menerobos lingkaran para sahabat yang sedang mengelilingi Rasulullah s.a.w. Ia datang tiba-tiba dengan segala beban kerisauan yang terlihat di wajahnya. Ia langsung menghampiri Rasulullah dan duduk persis di hadapan beliau.
“Keimananku hanya bertumpu di sini wahai Rasul Allah.” Sambil berkata itu Harmalah mengarahkan telunjuknya ke lidahnya.“Sedangkan kemunafikan berakar di sini,” katanya kemudian, seraya menempelkan telapak tangannya ke dadanya. Ia lalu berkata lagi, “Hati ini, wahai Rasul Allah, tidak pernah mengingat Allah kecuali jarang-jarang. Bantulah aku hingga segera terbebas dari kerisauan yang terus membelengguku ini.”
Dengan lembut penuh empati Rasulullah s.a.w. menyimak dengan saksama keluhan dan pengaduan tamunya itu, namun beliau tetap tenang tanpa suara. Tak sepatah kata pun terucap dari mulut beliau yang mulia. Mungkin beliau ingin mendengarkan keluhan Harmalah ibn Zaid hingga tuntas, sebagai tanda orang itu benar-benar serius untuk bertaubat dari kemunafikan; dan ia benar-benar yakin bahwa beliaulah yang mampu memberinya rasa tentram. Ternyata Harmalah mengulangi sekali lagi keluhannya tersebut kepada Rasulullah s.a.w., dengan cara yang sama.
Kemudian Rasulullah s.a.w. —sambil memegang ujung lidah Harmalah— berkata dalam do’a:
“Duhai Tuhan Pemilik segala Sifat Maha Sempurna, anugerahkan dia lidah yang jujur, yang tiada berkata kecuali kebenaran; hati yang mampu menikmati kedermawanan-Mu dalam setiap kejadian, yang tiada berdetak kecuali dengan pujian kepada-Mu. Anugerahkanlah dia cinta kepadaku dan cinta kepada orang-orang yang mencintaiku. Dan jadikanlah semua persoalan hidupnya menuju kepada kebaikan.”
“Wahai Rasul Allah, aku memiliki teman-teman yang seluruhnya adalah munafik sepertiku. Aku selama ini diterima sebagai pemimpin mereka. Sudikah Anda jika kusebutkan tentang mereka satu per satu?” kata Harmalah kepada Rasulullah s.a.w.
“Tak perlu kamu melakukannya. Siapa saja di antara mereka yang datang kepadaku dengan penuh penyesalan, sebagaimana yang kamu lakukan ini, maka kami akan memintakan pengampunan dari Allah baginya, persis seperti yang sudah kami lakukan untuk kamu. Namun barangsiapa bersikukuh dalam kemunafikan, maka Allah jua yang paling berhak menyelesaikan persoalannya.”
Rasulullah s.a.w. merindukan kepulangan orang-orang yang berdosa tanpa perlu mencemarkan harga diri mereka.
Posted on April 9th, 2008 | By: KCR | Filed under Kisah