MUHAMMAD (S.A.W.) NABI CINTA
Oleh: Haidar Bagir
Dan oleh kasih Tuhanmu kamu pun (Muhammad) bersikap lemah-lembut kepada mereka
(QS 3:159)
Demikian Tuhan sendiri menggambarkan sifat-utama pesuruhnya. Bukan hanya itu, di dalam kitab-suci-Nya Dia kabarkan:
Telah datang padamu seorang Pesuruh dari (kalangan) dirimu sendiri. Dia merasa berat atas apa-apa yang menimpamu, sangat menginginkan (kesejahteraan)-mu, dan kepada orang-orang beriman dia amatlah penyantun dan penyayang. (QS 9:128)
Kiranya, semua sifat penuh kasih dan kelembutan itu adalah suatu kenyataan logis mengingat Tuannya Muhammad s.a.w. itu telah berfirman bahwa, ia (Muhammad) tak disuruh kecuali untuk menebarkan kasih bagi alam dan segenap penghuninya (QS 21:107). Ia adalah utusan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, ia adalah suruhan Penopang dan Pemelihara alam keseluruhan.Suatu kali sahabatnya mendengar ia berkata: ”Orang-orang yang saling mencinta karena mengakui Kebesaran-Nya, hidupnya akan penuh cahaya, sehingga bahkan para nabi dan syuhada iri kepadanya.” Memang, ”tak akan masuk surga … kecuali kalian saling mencinta,” begitu dinasihatkannya.
Berkiprah di tengah-tengah kaum dhu’afa, belajar dari Nabi ini, adalah tak kurang daripada perjalanan spiritual untuk menemui-Nya. Katanya: ”Temui (Dia) di tengah-tengah mereka.”
Meski perbudakan adalah sesuatu yang lazim di masanya, perlakuan Muhammad s.a.w. kepada mereka tak beda dengan terhadap manusia merdeka. Seorang budak perempuan yang bersedih karena menghilangkan uang belanja majikannya membuatnya mau menunda aktivitasnya. Digantinya uang yang hilang, diantarnya si budak ke pasar untuk membeli barang suruhan majikannya, dan ditemaninya pulang ke rumah demi menghindarkan kemarahan sang tuan akibat keterlambatan yang lama. Begitu baiknya ia kepada budaknya sendiri, Zaid ibn Haritsah, sehingga sang budak tetap memilih tinggal bersamanya bahkan ketika ia hendak diserahkan kembali kepada orangtuanya sebagai manusia merdeka. Kata sang budak, sepanjang hidupnya Muhammad tak pernah menunjukkan kekesalan kepadanya.
Suatu kali ia pun mengajar kita: ”Barangsiapa menyayangi apa-apa yang ada di bumi, dia akan disayangi Yang di Langit.”
(Dikutip dari Majalah Madina, no.3, 2008)
Posted on April 16th, 2008 | By: KCR | Filed under Artikel
APA KATA NON-MUSLIM TENTANG MUHAMMAD S.A.W.
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi…
(QS 33 al-Ahzab:40)
Ya Allah, curahkan shalawat atas junjungan kami Muhammad dan keluaganya.
Berikut ini adalah kumpulan cuplikan pendek dari berbagai tokoh terkemuka non-Muslim dari kalangan sarjana, penulis, filosof, penyair, politisi, dan aktifis di dunia Timur dan Barat. Perlu diketahui bahwa, tak seorang pun di antara mereka yang kemudian menjadi Muslim. Karena itu, kalimat-kalimat yang dicuplik di bawah ini merefleksikan pandangan pribadi mereka atas berbagai aspek kehidupan Nabi Muhammad s.a.w.
Michael H. Hart (1932- )
Profesor astronomi, fisika dan sejarah sains
“Pilihan saya menempatkan Muhammad di urutan teratas dalam daftar orang-orang yang paling berpengaruh di dunia boleh jadi mengejutkan para pembaca dan dipertanyakan oleh banyak orang, tetapi dia (Muhammad) adalah satu-satunya manusia dalam sejarah yang sangat berhasil dalam dua tataran sekaligus, agama (ukhrawi) dan sekular (duniawi).”
[The 100: A Ranking Of The Most Influential Persons In History, New York, 1978, h. 33]
William Montgomery Watt (1909- )
Profesor (Emeritus) Studi Bahasa Arab dan Islam di University of Edinburgh
“Kerelaannya dalam mengalami penganiayaan demi keyakinannya, ketinggian akhlak orang-orang yang mempercayainya dan menghormatinya sebagai pemimpin, dan kegemilangan prestasi puncaknya —semua itu membuktikan ketulusan hatinya yang sempurna. Tetapi kenyataannya, tak seorang tokoh besar pun dalam sejarah yang sangat kurang dihargai di dunia Barat seperti Muhammad. Menganggap Muhammad sebagai seorang penipu akan menimbulkan lebih banyak masalah ketimbang memecahkannya.”
[Mohammad At Mecca, Oxford, 1953, h. 52]
Alphonse de Lamartine (1790-1869)
Penyair dan negarawan Prancis
“Filosof, orator, utusan Tuhan, pembuat undang-undang, pejuang, penakluk pikiran, pembaru dogma-dogma rasional dan penyembahan kepada Tuhan yang tak terperikan; pendiri dua puluh kerajaan bumi dan satu kerajaan langit, dialah Muhammad. Berkaitan dengan semua norma yang menjadi tolak ukur kemuliaan manusia, kita boleh bertanya, adakah manusia yang lebih besar daripada dia?”
[Histoire De La Turquie, Paris, 1854, vol. II, h. 276-277]
Reverend Bosworth Smith (1794-1884)
Mantan pengawas Trinity College, Oxford
“… Dia Caesar sekaligus Paus; tetapi dia adalah Paus tanpa pangkat Paus dan Caesar tanpa pasukan Caesar. Tanpa tentara tetap, tanpa pengawal, tanpa istana, tanpa pendapatan tetap, jika pernah ada manusia yang memiliki hak untuk mengatakan bahwa dia diperintah oleh Tuhan Yang Maha Benar, dialah Muhammad; karena dia memiliki semua kekuasaan tanpa peralatan dan pendukung untuk itu.”
[Mohammed and Mohammedanism, London, 1874, p. 235]
Mohandas Karamchand Gandhi (1869-1948)
Pemikir, negarawan, dan pemimpin nasionalis India
“…. Saya semakin yakin bahwa bukanlah pedang yang menaklukkan sebuah daerah bagi Islam untuk hidup pada zaman itu. Kesederhanaan yang teguh, nabi yang sama sekali tidak menonjolkan-diri, kesetiaannya yang luar biasa kepada janjinya, kasih sayangnya yang amat besar kepada para sahabat dan pengikutnya, keberaniannya, kepercayaannya yang mutlak kepada Tuhan dan kepada misinya; inilah, dan bukan pedang, yang mengantarkan segala sesuatu di hadapan mereka dan mengatasi setiap masalah.”
[Young India (majalah), 1928, Volume X]
Edward Gibbon (1737-1794)
Dianggap sejarawan Inggris terbesar di zamannya
“Kesuksesan kehidupan Muhammad yang luar biasa disebabkan semata-mata oleh kekuatan akhlak tanpa pukulan pedang.”
[History Of The Saracen Empire, London, 1870]
John William Draper (1811-1882)
Ilmuwan, filosof, dan sejarawan Amerika
“Empat tahun setelah runtuhnya kekaisaran Roma Timur (Kaisar Justin), pada 569 Masehi, di kota Makkah, di jazirah Arab, lahirlah manusia yang di antara seluruh manusia telah memberikan pengaruh amat besar bagi umat manusia… Muhammad.”
[A History of the Intellectual Development of Europe, London, 1875, vol.1, h. 329-330]
David George Hogarth (1862-1927)
Ahli arkeologi Inggris, penulis, dan pengurus Museum Ashmolean, Oxford
“Tindak-tanduk kesehariannya, yang serius ataupun yang sepele, menjadi hukum yang ditaati dan ditiru secara sadar oleh jutaan orang masa kini. Tak seorang pun diperhatikan oleh golongan umat manusia mana pun seperti Manusia Sempurna ini yang diteladani secara saksama. Tingkah laku pendiri agama Kristen tidak begitu mempengaruhi kehidupan para pengikut-Nya. Selain itu, tak ada Pendiri suatu agama yang dikucilkan tetapi memperoleh kedudukan mulia seperti Rasul Islam.
[Arabia, Oxford, 1922, h. 52]
Washington Irving (1783-1859)
Terkenal sebagai “sastrawan Amerika pertama”
“Dia makan secara sederhana dan bebas dari minuman keras, serta sangat gemar berpuasa. Dia tidak menuruti nafsu bermewah-mewah dalam berpakaian, tidak pula ia menuruti pikiran yang sempit; kesederhaannya dalam berpakaian dilatarbelakangi oleh sikapnya yang tidak mempedulikan perbedaan dalam hal-hal yang sepele…. Dalam urusan pribadinya dia bersikap adil. Dia memperlakukan kawan dan orang asing, orang kaya dan orang miskin, orang kuat dan orang lemah, dengan cara yang adil. Dia dicintai oleh rakyat jelata karena dia menerima mereka dengan kebaikan hati dan mendengarkan keluhan-keluhan mereka…. Keberhasilan militernya bukanlah kemenangan yang sia-sia dan sekali-kali tidak membuatnya merasa bangga, karena tujuan semuanya itu bukan untuk kepentingan pribadinya. Ketika dia memiliki kekuasaan yang amat besar, ia tetap sederhana dalam sikap dan penampilannya, sama seperti ketika dia dalam keadaan sengsara. Sangat berbeda dengan seorang raja, dia tidak suka jika, ketika memasuki ruangan, orang menunjukkan penghormatan yang berlebihan kepadanya.”
[Life of Mahomet, London, 1889, h. 192-3, 199]
Annie Besant (1847-1933)
Teosof Inggris dan pemimpin nasionalis India, Presiden Kongres Nasional India pada 1917
“Siapa pun yang mempelajari kehidupan dan sifat Nabi besar dari jazirah Arabia ini, siapa pun yang mengetahui bagaimana ia mengajar dan bagaimana ia hidup, pasti memberikan rasa hormat kepada Nabi agung itu, salah seorang utusan Tuhan yang luar biasa. Dan meskipun dalam uraian saya kepada Anda akan tersebut banyak hal yang barangkali sudah biasa bagi kebanyakan orang, akan tetapi setiap kali saya membaca-ulang tentang dia, saya sendiri merasakan lagi kekaguman yang baru, menimbulkan lagi rasa hormat yang baru kepada guru bangsa Arab yang agung itu.”
[The Life and Teachings of Muhammad, Madras, 1932, h. 4]
Edward Gibbon (1737-1794)
Dianggap sejarawan besar Inggris di zamannya
“Memorinya (yakni, Muhammad) sangat besar dan kuat, sikapnya sederhana dan ramah, imajinasinya agung, keputusannya jelas, cepat, dan tegas. Dia memiliki keberanian berpikir maupun bertindak.”
[History of the Decline and Fall of the Roman Empire, London, 1838, vol.5, h.335]
Posted on April 14th, 2008 | By: KCR | Filed under Artikel
Syafa’at Rasulullah Harapannya
Dengan hati tulus penuh cinta, Rabi`ah mengabdikan diri kepada Rasulullah s.a.w. Seharian, dari pagi hingga petang, ia terus-menerus berada di tempat Nabi s.a.w. berada; memenuhi kebutuhan beliau, melaksanakan apa saja yang dikehendaki oleh beliau dan keluarga. Bahkan setelah melaksanakan shalat ‘Isya sekalipun, ia tidak meninggalkan kediaman Nabi s.a.w. Kalau Nabi s.a.w. telah memasuki kamar istrinya, Rabi`ah tetap berjaga-jaga di situ, di depan pintu rumah Nabi s.a.w., khawatir kalau-kalau Nabi s.a.w. membutuhkannya di malam hari.
Rabi`ah pernah menuturkan pengalamannya, “Sampai tengah malam, aku masih saja mendengar munajat (“bisikan mesra”) Nabi s.a.w. kepada Tuhan, Sang Pencipta dan Penganugerah: ‘Subhaanallaah wal-hamdu lillaah….. —Mahasuci Engkau ya Allah, Maha Terpuji Engkau ya Allah’. Munajat itu terus terdengar olehku hingga aku benar-benar lelah dan pulang ke rumah, atau tertidur di situ.”
Nabi s.a.w. memperhatikan ketulusan hati dan kesetiaan bakti sahabatnya ini. Beliau ingin menunjukkan kepadanya, betapa beliau menghargai itu semua. Beliau ingin membalas kebaikannya itu dengan sesuatu yang benar-benar membuat sahabatnya gembira.
“Wahai Rabi`ah, mintalah dariku sesuatu, aku akan memberikannya kepadamu,” kata Nabi s.a.w. di suatu hari.
“Kalau begitu, wahai Rasul Allah, berilah aku waktu untuk berpikir. Aku akan me-nyampaikan kepada Anda apa yang aku harapkan dari Anda dalam kesempatan yang lain.”
Nabi s.a.w. menyambut baik gagasan tersebut. Rabi`ah pun kembali ke rumahnya. Pikirannya terus berkelana dalam renungan, Apa yang patut kuminta dari Nabi s.a.w.? Aku harus hati-hati dalam menentukan pilihan. Kesempatan yang istimewa ini tak boleh sia-sia. Kekayaan duniawikah yang kuminta, sedangkan aku tahu kefanaan jua akhirnya? Dan Allah Sendiri telah menjamin rizki setiap makhluk. Rizkiku pasti datang dan ia akan mencukupiku. Aku akan meminta dari Nabi s.a.w. sesuatu yang berkenaan dengan kehidupan akhirat yang abadi. Sesuatu yang luar biasa, dengan memanfaatkan kedudukan Nabi yang mulia dan khusus di sisi Allah SWT.
“Apa sudah kamu pikirkan, Rabi`ah?” tanya Nabi s.a.w. setelah kembali bertemu dan berduaan dengan sahabatnya itu.
“Benar wahai Rasul Allah, sudah kupikirkan dan kurenungkan. Yang kuinginkan ialah, Anda sudi memberiku syafa`at, memohonkan untukku kepada Allah agar sudi membebaskan dan menyelamatkanku dari neraka, serta aku diizinkan untuk boleh bersama dengan Anda di surga kelak.”
Mendengar permintaan Rabi’ah ini, Nabi s.a.w. tertegun sesaat; kemudian dengan cepat beliau bertanya:“Siapa yang menyuruhmu untuk menyampaikan permintaan tersebut?”
“Demi Yang telah Mengutusmu dengan segala kebenaran, tak seorang pun yang memberiku saran begitu. Aku sendirilah yang berpikir dan merenung, setelah mendapat tawaran istimewa dari Anda, wahai Rasul Allah. Aku menyadari kedudukan Anda yang istimewa di sisi Allah Yang Maha Kuasa. Haruskah kuminta darimu dunia, sedangkan kefanaan jua akhirnya? Apalagi Allah telah menjamin rizki para makhluk-Nya. Rizkiku pasti datang, dan pasti mencukupiku pula. Maka aku berkesimpulan, bahwa akhiratlah yang harus kudapatkan lewat Anda.”
Rasulullah s.a.w. kembali tertegun. Kali ini cukup lama beliau berdiam diri tanpa sepatah kata pun, tapi kemudian beliau berkata: “Aku pasti memenuhi permintaanmu, wahai Rabi’ah. Hanya saja bantulah aku dalam menanggulangi kekurangan-kekurangan yang ada padamu dengan cara engkau memperbanyak ibadah.”
Allah Maha Dermawan, tidak akan pernah mengecewakan hati yang benar-benar tulus dalam cinta. Demikian pula Rasul-Nya yang selalu berusaha meniru akhlak-Nya.
Posted on April 9th, 2008 | By: KCR | Filed under Kisah
Doa Rasulullah yang Diharapkan
Harmalah ibn Zaid menerobos lingkaran para sahabat yang sedang mengelilingi Rasulullah s.a.w. Ia datang tiba-tiba dengan segala beban kerisauan yang terlihat di wajahnya. Ia langsung menghampiri Rasulullah dan duduk persis di hadapan beliau.
“Keimananku hanya bertumpu di sini wahai Rasul Allah.” Sambil berkata itu Harmalah mengarahkan telunjuknya ke lidahnya.“Sedangkan kemunafikan berakar di sini,” katanya kemudian, seraya menempelkan telapak tangannya ke dadanya. Ia lalu berkata lagi, “Hati ini, wahai Rasul Allah, tidak pernah mengingat Allah kecuali jarang-jarang. Bantulah aku hingga segera terbebas dari kerisauan yang terus membelengguku ini.”
Dengan lembut penuh empati Rasulullah s.a.w. menyimak dengan saksama keluhan dan pengaduan tamunya itu, namun beliau tetap tenang tanpa suara. Tak sepatah kata pun terucap dari mulut beliau yang mulia. Mungkin beliau ingin mendengarkan keluhan Harmalah ibn Zaid hingga tuntas, sebagai tanda orang itu benar-benar serius untuk bertaubat dari kemunafikan; dan ia benar-benar yakin bahwa beliaulah yang mampu memberinya rasa tentram. Ternyata Harmalah mengulangi sekali lagi keluhannya tersebut kepada Rasulullah s.a.w., dengan cara yang sama.
Kemudian Rasulullah s.a.w. —sambil memegang ujung lidah Harmalah— berkata dalam do’a:
“Duhai Tuhan Pemilik segala Sifat Maha Sempurna, anugerahkan dia lidah yang jujur, yang tiada berkata kecuali kebenaran; hati yang mampu menikmati kedermawanan-Mu dalam setiap kejadian, yang tiada berdetak kecuali dengan pujian kepada-Mu. Anugerahkanlah dia cinta kepadaku dan cinta kepada orang-orang yang mencintaiku. Dan jadikanlah semua persoalan hidupnya menuju kepada kebaikan.”
“Wahai Rasul Allah, aku memiliki teman-teman yang seluruhnya adalah munafik sepertiku. Aku selama ini diterima sebagai pemimpin mereka. Sudikah Anda jika kusebutkan tentang mereka satu per satu?” kata Harmalah kepada Rasulullah s.a.w.
“Tak perlu kamu melakukannya. Siapa saja di antara mereka yang datang kepadaku dengan penuh penyesalan, sebagaimana yang kamu lakukan ini, maka kami akan memintakan pengampunan dari Allah baginya, persis seperti yang sudah kami lakukan untuk kamu. Namun barangsiapa bersikukuh dalam kemunafikan, maka Allah jua yang paling berhak menyelesaikan persoalannya.”
Rasulullah s.a.w. merindukan kepulangan orang-orang yang berdosa tanpa perlu mencemarkan harga diri mereka.
Posted on April 9th, 2008 | By: KCR | Filed under Kisah