• You are here: 
  • Home
  • SEBERAPAKAH RAHMAT DI DIRI ANDA?

SEBERAPAKAH RAHMAT DI DIRI ANDA?

Oleh : Ust. Husin Nabil

Kita sering mendengar kata rahmat. Apakah sebenarnya arti rahmat itu? Kata rahmat dalam bahasa Indonesia adalah kata serapan dari bahasa Arab rahmah. Dalam kitab Lisân al-`Arab dijelaskan bahwa sifat rahmah mencakup sifat penyayang, pengasih dan pengampun. Allah memiliki sifat ar-Rahmah, karena Dia Maha Penyayang, Maha Pengasih, dan Maha Pengampun. Di dalam Al-Qur’an disebutkan, “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS al-A’râf [7]: 156) Jika bukan karena rahmat Allah maka kita telah lenyap dari muka bumi ini sejak kita pertama kali melakukan dosa. Namun karena rahmat-Nya Allah SWT berfirman, “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.’” (QS 39 [az-Zumar]:53)

Di antara wujud rahmat Allah di alam semesta ini adalah di utusnya Nabi s.a.w.: “Dan tiadalah Kami mengutus engkau, melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (QS al-Anbiyâ [21]: 107) Nabi s.a.w. diutus sebagai rahmat, dan sifat rahmat itu ada pada diri Nabi s.a.w. Karena itu jika kita menilik sejarah beliau s.a.w. maka kita akan mendapati sifat sayang, kasih dan pemaaf mewarnai kehidupan beliau s.a.w. Ayat Al-Qur’an menjelaskan bagaimana sifat rahmat yang ada dalam diri Rasul s.a.w. “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (QS at-Taubah [9]: 128). Dalam ayat yang lain Allah SWT menunjukkan wujud rahmat beliau s.a.w. dengan begitu jelas, “Thâhâ. Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” (QS Thâhâ [20]: 1 & 2). Dijelaskan dalam tafsir Hâsyiah ash-Shâwiy `ala tafsîr al-Jalâlain, ayat di atas menjelaskan bahwa Allah SWT menegur Rasullah s.a.w. yang gundah karena kesedihan beliau atas kekafiran orang-orang yang kafir, padahal tugas beliau s.a.w. hanyalah menyampaikan risalah Allah. Kegundahan itu adalah wujud rahmat beliau s.a.w. Disebutkan dalam tafsir al-Jalâlain, pada saat turunnya wahyu, “Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.” (QS adh-Dhuha [93]: 5), maka Rasulullah s.a.w. bersabda, “Kalau begitu aku tak akan puas jika ada satu dari umatku yang masuk ke neraka.” Dari sabda ini kita dapat merasakan gemuruh rahmat yang begitu besar di dalam dada Rasulullah s.a.w. Bagaimana tidak? Mari kita bayangkan, jika pemberian itu disodorkan kepada kita, apakah pemberian yang akan menjadikan kita puas?

Kita umat Nabi Muhammad s.a.w. diperintahkan untuk mengambil bagian dari sifat rahmat. Beliau s.a.w. bersabda, “Orang-orang yang memiliki sifat rahmat, akan dirahmati oleh Yang Maha Pengasih. Rahmatilah penduduk bumi, niscaya akan merahmati kalian siapa yang ada di langit.” (HR Abu Dawud) Tentu saja setiap manusia memiliki sifat rahmat di dalam dirinya, walaupun setitik. Minimal ia akan merahmati dirinya sendiri. Namun manusia seperti ini adalah manusia egois yang lebih rendah daripada hewan sekalipun. Hewan masih memiliki rahmat terhadap pasangan dan anak-anaknya. Anehnya, manusia yang diciptakan dengan penciptaan yang paling sempurna ini tak meluangkan rasa rahmat untuk makhluk selain dirinya. Di zaman ini manusia semacam ini terlampau banyak, hingga kita dapati seorang ibu membuang anaknya, seorang bapak menyiksa anaknya, atau sebaliknya seorang anak membunuh orangtuanya sendiri. Semua itu terjadi karena mereka hanya mengambil sedikit dari sifat rahmat Allah SWT.

Semakin besar rahmat yang ada di dalam hati seseorang, semakin ia meluangkan perhatian dan kasih sayangnya terhadap makhluk lain. Orang yang memiliki kasih sayang dan perhatian hanya sekadar terhadap keluarganya saja, tentunya berada hanya setingkat di atas mereka yang hanya merahmati dirinya sendiri. Jika mereka yang hanya merahmati dirinya sendiri lebih rendah daripada hewan, maka mereka yang hanya merahmati dirinya dan keluarganya hanya setingkat dengan binatang. Karena itu Allah dan Rasul-Nya mengajak setiap individu Muslim untuk hidup setingkat dengan manusia yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Yaitu mengamalkan hadits di atas hingga menjadi rahmat bagi alam seluruhnya seperti halnya Nabi Muhammad s.a.w. diutus sebagai rahmat untuk alam semesta.

Perincian menjadi rahmat bagi alam semesta adalah:

1. Merahmati diri kita sendiri jasmani dan ruhani. Merahmati jasmani dengan memberikan kebutuhannya sesuai dengan porsinya, tidak menyiksanya dengan menghentikan kebutuhannya atau berlebih-lebihan dalam memenuhinya sehingga timbullah penyakit di sana-sini. Begitu juga merahmati ruhani kita dengan menjadikannya beribadah sesuai dengan tuntunan Nabi s.a.w. hingga ia mencapai kedekatan dengan Allah.
2. Merahmati keluarga dengan memberikan hak-hak jasmani mereka sebagai keluarga kita, termasuk tata-cara berinteraksi yang baik. Memberikan hak-hak ruhani mereka dengan mengajarkan tuntunan Nabi Muhammad s.a.w. kepada mereka sehingga ruhani mereka juga dapat mencicipi kedekatan dengan Allah sebagaimana dirinya dapat mencicipi kedekatan dengan Allah dan menjauhkannya dari siksa dan azab kelak di akhirat. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS at-Tahrim [66]: 6)
3. Merahmati saudara sesama Muslim dengan cara memperhatikan kehidupan jasmani mereka. Jika kita memiliki kelebihan harta dan ada saudara kita sesama Muslim yang butuh bantuan kita, maka kita wajib membantunya. Karena itulah zakat dan sedekah berulang-ulang diutarakan di dalam Al-Qur’an. Jika keadaan jasmani harus diperhatikan, apalagi keadaan ruhani mereka. Maka kita diwajibkan pula menyampaikan ilmu agama yang kita ketahui kepada orang-orang Islam yang tidak mengetahuinya walaupun sedikit. Rasul s.a.w. juga bersabda, “Barangsiapa tidak memerhatikan keadaan orang Islam, maka ia tidak termasuk golongan mereka —orang Islam (HR Thabrani). Di dalam hadits yang lain, “Tiadalah sempurna iman seseorang di antara kalian, hingga ia menginginkan untuk saudaranya apa yang ia inginkan untuk dirinya sendiri.” (HR Muttafaq `Alaihi). Dua hadits di atas mencakup keadaan jasmani dan ruhani orang-orang Islam.
4. Merahmati mereka yang berada di luar Islam dengan cara mengajak mereka untuk masuk ke dalam Islam dan menyelamatkan mereka dari siksa yang kekal selama-lamanya di akhirat kelak. Karena mereka yang mati dalam keadaan kafir akan kekal di neraka.
5. Merahmati hewan dan tumbuh-tumbuhan dengan cara tidak menyiksa dan merusak lingkungan hidup.

Itulah perincian sifat rahmat bagi alam semesta. Jika seseorang memiliki sifat rahmat sempurna memenuhi perincian di atas, maka ia baru layak disebut sebagai khalîfah Allah di muka bumi seperti yang tercantum di dalam ayat, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS al-Baqarah [2]: 30).

Lalu seberapakah kadar rahmat di dalam diri Anda?


Posted on February 20th, 2008 | By: KCR | Filed under Artikel


Leave a Reply

Jajak Pendapat

Apa anda mengetahui acara "Sehari Bersama Rasulullah" yang diselenggarakan oleh KCR & dipandu langsung oleh Haddad Alwi?

View Results

Loading ... Loading ...

Categories

 

February 2008
M T W T F S S
    Apr »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829