KELEMBUTAN MEMBAWA PERDAMAIAN
Oleh : Ahmad Abu Hasan
Maka karena rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, niscaya mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. (QS 3:159)
Dalam ayat di atas, Allah SWT menunjukkan dan memuji sifat Rasulullah s.a.w., yang membuat orang tertarik dengan ajaran Islam, yaitu kelembutan.
Pada Perang Uhud, Nabi s.a.w. memerintahkan 50 orang pasukan Muslim untuk tetap menempati posisi di atas bukit sambil menghujani musuh dengan anak panah. Kepada mereka dipesankan agar tidak meninggalkan posisi itu sampai ada perintah dari beliau. Tetapi ternyata mereka tidak mengikuti perintah Nabi; mereka meninggalkan posisinya untuk berebut harta rampasan. Akibatnya, mereka dikepung dan diserang oleh musuh dari belakang. Pasukan Muslim yang sudah hampir mencapai kemenangan berubah menjadi kocar-kacir. Untuk menyelamatkan nyawanya, sebagian pasukan Muslim menyembunyikan diri di sekitar bukit, meninggalkan Rasulullah s.a.w. dan beberapa sahabat setia beliau yang berjuang sendirian menghadapi situasi itu. Banyak pula pasukan Muslim yang melarikan diri dalam kekacauan itu.
Usai perang, kaum Muslim dirundung duka dan kecemasan. Sebagian besar sisa tentara Muslim yang selamat mengira mereka akan dijatuhi hukuman oleh Rasulullah s.a.w. atas kesalahan mereka; dan memang mereka pantas dihukum. Namun, Nabi s.a.w. ternyata tidak menghukum mereka. Alih-alih, beliau justru memperlakukan mereka dengan lemah-lembut. Itulah sebabnya, Allah SWT memuji Nabi-Nya seperti yang tercantum dalam QS 3: 159 di atas.
Nabi s.a.w. bersabda: “Seandainya kelembutan itu dapat dicerap dengan mata kepala, maka ia akan tampak sebagai ciptaan Allah SWT yang paling indah.”
Beliau juga bersabda: “Di mana pun kelembutan dipertontonkan, ia akan menghiasi tempat itu.”
Salah satu kebaikan sifat lemah-lembut kepada orang lain adalah bahwa, ‘kelembutan akan mendorong pemecahan semua masalah dengan cara damai.’ Ketika dua orang, atau dua kelompok masyarakat, saling bertengkar atau berselisih, dan tak satu pun di antara mereka menunjukkan sikap lembut, maka masalah mereka tak akan pernah terpecahkan. Begitu salah satu di antara mereka menunjukkan sikap lembut, pihak lainnya akan melunak dan kesepakatan mudah dicapai di antara mereka.
Di zaman Jahiliyah dulu, suatu persoalan sepele dapat memicu perang besar di antara dua suku. Perang akan berlangsung selama bertahun-tahun, memakan banyak korban tewas, dan membinasakan keluarga. Islam menghentikan kebiasaan itu dengan memperkenalkan konsep saling ‘berlemah-lembut’ dan ‘memaafkan’.
Suatu ketika, seorang Arab Badui datang ke Madinah dan menemui Nabi s.a.w. untuk meminta petunjuk dan saran. Nabi s.a.w. tidak berkata lain kepadanya kecuali mengucapkan satu kalimat singkat: “Jangan menuruti watak kerasmu.”
Orang Badui itu lalu pulang. Ketika sampai di tengah kaumnya, ia dikabari bahwa telah terjadi masalah gawat. Beberapa pemuda dari sukunya telah mencuri barang milik suku lain dan suku korban pencurian itu menuntut balas. Karenanya, mereka telah bersiap-siap dan saling berhadapan dengan senjata masing-masing untuk berperang.
Orang Badui itu segera mencari baju besinya, menghunus senjatanya, dan bergabung bersama sukunya untuk berperang dengan suku lain. Tiba-tiba, ia teringat akan kalimat Nabi s.a.w. yang terus terngiang di telinganya, “Jangan menuruti watak kerasmu.” Segera ia berpikir dalam-dalam dan bertanya kepada dirinya sendiri: Kenapa aku menjadi sedemikian naik darah? Kenapa aku harus mengangkat senjata dan menumpahkan darah? Apa yang membuatku begitu marah? Ia lalu meletakkan senjatanya dan maju ke depan untuk berbicara dengan suku lain di depannya. Dia berkata, “Untuk apa perang ini? Jika beberapa orang dungu dari suku kami telah melakukan pelanggaran terhadap kalian, aku siap untuk mengganti kerugian itu dari hartaku sendiri. Jadi tak ada alasan untuk membahayakan hidup kita dan menumpahkan darah dengan sia-sia.” Ketika usul persahabatan si Badui itu terdengar oleh pihak lawan, keramahan dan semangat mereka timbul dan mereka menjawab, “Kami sekali-kali tidak lebih rendah daripada kalian. Kalau memang demikian, kami akan membatalkan tuntutan kami.” Maka kedua suku itu akhirnya berdamai.
Posted on February 20th, 2008 | By: KCR | Filed under Artikel