• You are here: 
  • Home
  • 2008 February

Mahalnya Sebuah Keyakinan

Rasulullah s.a.w. sangat menghargai perasaan dan sikap tulus yang ditunjukkan oleh umatnya kepada beliau. Pada suatu hari Rasulullah s.a.w. berminat membeli seekor kuda dari seorang Badui bernama Sawa` ibn Qais al-Muharibi, yang sedang menariknya menuju ke pasar Madinah. Tawar-menawar antara keduanya berlangsung, dan transaksi jual-beli pun terjadi. Rasul s.a.w. segera menuju ke rumah beliau untuk mengambil uang pembayaran harga kuda tersebut. Beliau berjalan cepat menuju ke rumah, dan meminta Sawa` ibn Qais untuk mengikutinya. Namun si pemilik kuda hanya berjalan santai, sengaja memperlambat langkahnya. Bahkan ia masih saja terus melayani setiap orang yang berpapasan dengannya yang menawar kuda bawaannya itu. Mereka tidak tahu bahwa kuda itu sudah laku terjual kepada Rasulullah s.a.w.

Dalam perjalanan itu Sawa` ibn Qais al-Muharibi mendapatkan pembeli lain yang berani membayar lebih tinggi dari harga yang telah disepakatinya dengan Rasulullah s.a.w. Maka ia pun bergegas menyusul Rasulullah, dan menghampiri beliau seraya berkata: “Apakah Anda jadi membelinya? Kalau tidak, biarlah aku menjualnya kepada orang lain.”

Rasulullah s.a.w. kini menyadari kenapa Sawa` ibn Qais tidak mau berjalan bersama-sama dengannya. Rupanya sesuatu yang tak diharapkan telah terjadi. Namun beliau tetap tenang dan ramah sebagaimana sikap beliau kepada setiap orang.

“Lho, bukankah engkau telah menjualnya kepadaku? Dan sekarang ini kita sedang menuju kediamanku. Aku akan membayar kepadamu harga yang telah kita sepakati bersama tadi,” jawab Rasulullah kepadanya dengan lembut.

“Ah, Anda keliru. Demi Allah, aku memang memutuskan menjualnya kepada Anda, tapi tidak ada harga yang kita sepakati bersama.”

“Kenapa secepat itu kamu menjadi pelupa?” Rasulullah s.a.w. membujuknya agar kembali bersikap jujur.

Sawa’ ibn Qais ngotot, “Tidak, itu tidak benar. Aku belum menjual kudaku ini kepadamu. Sekarang aku telah mendapatkan orang lain yang memberi penawaran yang lebih tinggi dari penawaranmu. Kalau Anda bersedia membayar seperti yang ia tawarkan, silakan. Kalau tidak…. ya terpaksa kujual kudaku ini kepada orang itu,” begitu ancamnya.

Mendengar ada perselisihan, orang-orang yang berada di lokasi itu mulai berdatangan mendekati mereka berdua, dan akhirnya kasus itu merebak luas. Mengetahui duduk persoalannya, beberapa sahabat Rasulullah yang kebetulan ada di tempat itu merasa ada kejanggalan dalam diri Sawa’ ibn Qais; mereka heran kenapa Sawa’ ibn Qais tega memperlakukan Rasulullah seperti itu? Namun mereka tidak dapat berbuat banyak karena Rasulullah s.a.w. sendiri tampak tetap lemah-lembut dan berwajah ceria kepada Ibn Qais.

“Bukankah tidak boleh kamu menjual sesuatu yang sudah kamu jual kepada orang lain, karena barang itu sudah menjadi milik orang tersebut?” Rasulullah s.a.w. membujuknya.

“Tidak, aku tidak pernah menjual kudaku ini kepada Anda. Kalau Anda keberatan, silakan datangkan saksi yang dapat membuktikan kebenaran dakwaan Anda ini,” tegas Ibn Qais kepada Rasulullah s.a.w.

Para sahabat Rasulullah terperanjat mendengar ucapan Ibn Qais yang terakhir ini; mereka bagaikan tersambar gledek.

“Celaka kamu. Tidakkah kamu menyadari sedang berbicara dengan siapa kamu sekarang ini? Ini Rasul Allah. Mustahil beliau mengucapkan sesuatu yang tidak benar!”

Rasulullah s.a.w. tetap saja tenang dan lembut dalam menghadapi persoalan itu. Pertengkaran justru mulai terjadi antara para sahabat dengan Sawa’ ibn Qais.

“Aku tidak akan menyerah begitu saja kepada kalian,” kata Ibn Qais, “dia harus menghadirkan saksi yang membenarkan pengakuannya! Titik.”

Sawa’ ibn Qais mantap sekali. Ia amat yakin tidak seorang pun dapat memberikan kesaksian yang membuatnya tunduk kepada kebenaran, karena tak satu manusia pun bersama mereka ketika terjadi transaksi jual-beli tersebut.

Betapa kesal hati para sahabat menyaksikan gelagat orang Ibn Qais. Mereka tidak meragukan sedikit pun bahwa ia berbohong tetapi tak sudi menyerah. Mereka bingung, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap orang Badui itu. Apalagi menyaksikan Rasul s.a.w. yang tetap tenang dan lembut.

Tiba-tiba muncul seseorang dan bergabung ke dalam kerumunan orang-orang itu. Khuzaimah al-Anshari, namanya. Setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, ia spontan berkata tanpa basa-basi, “Aku saksinya. Akulah yang melihat, mendengar, dan menyaksikan bahwa Rasul s.a.w. benar-benar telah membeli kuda ini darimu, dan kamu telah menjualnya kepada beliau.”

Mendengar pernyataan Khuzaimah yang meluncur bagaikan anak panah ini, mulut Ibn Qais langsung menjadi terkatup. Tidak mampu lagi ia berkutik. Apa yang menjadi tuntutannya sudah terpenuhi. Ia pun menyerah kepada kebenaran yang ia khianati.

Namun kini giliran Rasulullah s.a.w. yang mengajukan pertanyaan kepada Khuzaimah, “Gerangan apakah yang mendorongmu membuat kesaksian seperti itu, padahal kamu tidak hadir bersama aku dan orang itu ketika terjadi transaksi jual-beli yang diingkarinya itu?”

“Wahai Rasulallah —semoga salam, rahmat, shalawat dan berkat Ilahi tetap tercurah atasmu sekeluarga— aku menjadi saksi atas kebenaran semua pernyataanmu tentang berita-berita besar yang Anda terima dari Sang Pencipta alam semesta, Penguasa dunia dan akhirat. Maka gerangan apakah sebabnya yang membuatku tidak menjadi saksi atas kebenaran pernyataanmu tentang transaksi jual-beli seekor kuda?”

Rasulullah tertegun mendengar pernyataan sahabatnya yang tulus itu; yang mampu secara spontan menerjemahkan keimanannya terhadap kenabian beliau secara sederhana tapi gamblang. Rasul s.a.w. —yang selalu menghargai cinta dan ketulusan orang lain dengan cinta dan ketulusan yang lebih besar— langsung bersabda: “Kesaksian Khuzaimah senilai kesaksian dua orang jujur dari umatku. Barangsiapa yang Khuzaimah memberikan kesaksian atas keabsahan dakwaannya atau kebatilan tuntutannya, maka cukuplah yang demikian itu menjadi sandaran yang adil bagi sebuah putusan yang benar.”

Tidak ada keraguan sama sekali bahwa ketulusan Khuzaimah tersebut adalah bagian dari sikap penghambaannya kepada Allah SWT. Karena itulah Allah SWT memberikan penghargaan kepadanya dengan mengizinkannya bersujud kepada-Nya di atas hamparan yang tersuci dari seluruh ciptaan-Nya yang suci.

Di suatu pagi, Khuzaimah berkata kepada Rasulullah s.a.w., “Wahai Rasulallah, semalam aku mimpi bersujud di atas dahimu.”

Maka dengan serta-merta Rasul yang mulia itu bertelentang, dan dengan penuh kelembutan beliau berkata kepada sahabatnya itu: “Ayo, realisasikanlah mimpi itu. Buktikanlah bahwa yang engkau alami dan engkau saksikan semalam adalah suatu kebenaran.” Maka bersujudlah Khuzaimah al-Anshari kepada Allah di hamparan tersuci itu, di atas dahi Rasulullah s.a.w.


“La Tuzrimuhu”

Seorang pendidik yang bijaksana akan memperhatikan segala hal yang berhubungan dengan anak didiknya dari segi intelektual, emosional, kesehatan fisik, dan persiapan mentalnya. Ia akan memilih cara yang paling tepat, aman dan bijaksana bagi setiap anak didik yang akan dicerahkan. Dasarnya adalah kelembutan.

Pada suatu hari, ketika Rasulullah s.a.w. dan sejumlah sahabat sedang berada di masjid beliau di Madinah, tiba-tiba muncul seorang Arab Badui. Ia langsung menuju ke salah satu pojok masjid. Apa yang ia lakukan di situ? Sungguh luar biasa: ia membuang air seninya. Kontan saja para sahabat dengan serentak membentak: “Hei, berhenti, berhenti….jangan kamu kencing di masjid.” Mereka kaget dan sangat berang.

Orang Arab Badui itu juga kaget dan bingung, ia tidak membayangkan akan diperlakukan begitu. Rasulullah s.a.w. yang juga menyaksikan peristiwa itu, tentunya ikut terkejut. Namun beliau mampu menguasai emosi. Dengan cepat beliau berkata, menegur para sahabat: “L? tuzrim?hu. Jangan kalian kagetkan ia; jangan kalian ganggu dan potong kelancaran kencingnya.”

Kini para sahabat yang kaget dan heran mendengar instruksi Rasulullah tersebut, namun mereka mematuhinya dengan tulus. Orang Badui itu pun kembali melanjutkan kencingnya hingga benar-benar selesai. Kemudian Rasul s.a.w. memanggilnya, dan dengan segala kelembutan beliau berkata memberinya pelajaran: “Rumah-rumah Allah tidak tepat untuk dijadikan tempat buang air kecil dan segala sesuatu yang bersifat najis. Rumah-rumah Allah hanya difungsikan untuk ibadah dan berdzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al-Qur’an.”

Kemudian beliau menugaskan salah seorang dari sahabat untuk mengambil seember air dan membersihkan bagian masjid yang ternajis oleh kencing orang Badui itu dengan menggunakan air yang dibawanya.

Demikianlah akhlak Nabi yang mulia. Dengan kepala dingin dan berfikir jernih penuh kelembutan, beliau mengatasi persoalan yang tak menyenangkan dengan cara yang simpatik. Coba bayangkan apa yang bakal terjadi seandainya beliau biarkan saja di antara sahabat ada yang bertindak keras kepada Arab Badui yang bodoh dan tidak berbudaya tersebut? Boleh jadi kaget dan takut yang diakibatkan oleh teriakan dan bahkan “pukulan” —bila dibiarkan oleh Rasulullah— akan berakibat buruk pada kesehatan orang itu karena harus menghentikan penyaluran air seni yang sedang meluncur lancar. Boleh jadi pula ketakutan akan membuat orang Badui itu lari meninggalkan posisinya sehingga air seninya tercecer ke berbagai tempat. Jika itu yang terjadi, sudah pasti air seember tak akan cukup untuk membersihkan masjid dari najis-najis yang ditinggalkannya; dan tidak cukup pula untuk ditangani oleh hanya seorang sahabat.

Lebih penting dari itu semua ialah implikasi negatif yang ditimbulkan oleh citra buruk tentang Islam yang bakal tertanam dalam hati si Badui yang ketakutan itu; baginya Islam adalah kasar, tidak bersahabat, sok suci dan lain-lain…..boleh jadi ia tidak akan pernah tertarik lagi dengan masjid, Islam dan Nabi-Nya. Siapakah yang berdosa, orang bodoh yang tidak tahu adat-istiadat atau orang mengerti yang kasar dan tidak empati? Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Sungguh Islam ini mantap, mengagumkan, spektakuler…….. maka perkenalkanlah ia dengan penuh kelembutan.”


Cinta Tulus yang Merasuk ke dalam Jiwa

Tsauban, namanya; seorang pemuda yang tertawan dan menjadi budak akibat kekalahan yang dialami kaumnya di suatu peperangan. Ia dibeli oleh Rasulullah s.a.w. yang kemudian memerdekakannya. Tetapi kemerdekaan yang telah dimilikinya kembali tidak pernah membuatnya pergi meninggalkan sosok yang memerdekakannya. Ia bahkan makin bertambah cinta kepada Rasulullah yang menjadi sebab keislaman dan kemerdekaannya itu. Ia bahkan telah berikrar untuk mengabdikan diri kepada Rasulullah s.a.w. selama hidupnya.

Tsauban sangat sentimentil dalam cintanya kepada Rasulullah, sehingga ia tidak sanggup berpisah lama dengan beliau. Namun tidak selamanya pencinta dan sang kekasih dapat bersama-sama; perpisahan dengan orang yang dicintai kadang-kadang harus terjadi, walau hanya untuk beberapa saat. Itulah derita yang dialami oleh Tsauban dari waktu ke waktu.

Pada suatu hari Tsauban kembali muncul di hadapan Rasulullah s.a.w. Namun dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya makin mengurus, dan kesedihan tampak jelas mewarnai seluruh raut wajahnya.
“Gerangan apakah yang membuatmu kelihatan begitu sengsara, Tsauban?” tanya Rasulullah kepadanya.

“Sebenarnya badannya sehat-sehat saja, tidak ada suatu penyakit pun yang kurasakan. Namun, wahai Rasul Allah, apabila aku tidak menyaksikan wajah Anda untuk beberapa saat, niscaya aku dirundung kerinduan dan langsung merasa kesepian dan kemeranaan yang luar luar biasa, sampai aku kembali berjumpa dengan Anda. Aku sangat mencintai Anda; cinta yang lebih besar dan lebih luhur daripada cintaku kepada anak, istri dan diriku sendiri, sehingga aku tidak akan mampu berpisah lama dari Anda. Bayangan wajah Anda terus saja di pelupuk mataku, walaupun aku sedang bercengkrama dengan anggota keluargaku. Ingatanku kepada Anda terlalu merasuk di hati, tidak tertahankan olehku, sampai aku kembali menyaksikan kesejukan wajah Anda. Terlintas keyakinan di benakku, bila perjumpaan tertunda lebih lama lagi, niscaya nyawaku akan segera tercabut bersama memuncaknya rinduku.”

Tsauban tidak mampu melanjutkan pembicaraan yang kelihatannya belum selesai. Air matanya tak tertahan lagi, jatuh berderai bersama isak tangisnya yang mulai menggema.

“Kenapa pula kamu menangis sekarang, bukankah kita telah bersama lagi?” kata Rasulullah membujuknya.

“Terbayang olehku sekarang ini, tentang kematianku dan kematian Anda. Kerinduan dan kemeranaanku di dunia ini memang dapat kuatasi dengan datang menemui Anda. Aku sangat khawatir bahwa penyelesaian yang sama terhadap masalahku ini tak akan terjadi di kehidupan akhirat. Kusadari benar, bahwa kedudukan Anda di surga nanti, akan ditinggikan Allah sedemikian rupa, sehingga tidak ada yang dapat menemui dan menemani Anda kecuali para nabi saja. Kecilnya kemungkinanku untuk dapat bersama Anda di akhirat nanti telah membuat hidupku amat sengsara sekarang ini.”

Dengan penuh empati Rasulullah s.a.w. menyimak rintihan jiwa dari seorang sahabat yang sangat mencintainya. Namun tak sepatah kata pun yang dapat beliau ucapkan. Tersirat di dalamnya sesuatu, yang beliau sendiri tidak berwenang untuk berkomentar. Rasulullah s.a.w. hanya mampu menunjukkan betapa beliau sangat menghormati cinta yang luhur, dan merasakan kesedihan yang sama seperti yang dialami sahabatnya itu.

Untungnya, keresahan itu tidak dibiarkan oleh Allah berlarut-larut di hati para pecinta sejati. Dia segera mengakhirinya dengan kedamaian yang menyejukkan dengan menurunkan firman-Nya yang merupakan jawaban atas keresahan para pencinta Rasulullah:

Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan selalu bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada`, dan orang-orang salih; mereka itulah sebaik-baiknya teman. Yang demikian itu adalah karunia Allah, dan cukuplah Allah Maha Mengetahui. (QS An-Nisa’ [4]:69-70)

Apa yang dirasakan oleh Tsauban terhadap pribadi Rasulullah s.a.w. ini juga dialami oleh banyak sahabat dan umat beliau di sepanjang zaman. Oleh karena itu, berita gembira tentang anugerah Allah seperti yang tersebut di dalam ayat di atas berlaku untuk semua kaum Muslimin, tanpa kecuali.
Diriwayatkan bahwa di saat Rasulullah s.a.w. menghembuskan nafasnya yang terakhir, Tsauban sedang berada bersama seseorang —yang juga sangat cinta kepada Rasulullah— di sebuah kebun. Ketika berita duka itu sampai ke telinga Tsauban, ia tidak mampu membendung rasa dukanya. Sedemikian berat kesedihannya sehingga dengan penuh keseriusan ia menyampaikan harapan dalam doanya kepada Allah SWT:

“Aduhai Tuhan Pemilik semua Sifat Maha Sempurna, butakanlah mataku ini agar aku tidak menyaksikan apa pun setelah kepergian Nabiku, hingga saat aku berjumpa dengan-Mu.”

Karena ketulusanya, Allah SWT mengabulkan doa itu; mata Tsauban langsung menjadi buta, sebelum ia beranjak dari tempatnya.


MENGAPA MESTI CINTA RASULULLAH

Oleh: Qosim Hidayat

Suatu ketika, seorang Arab Badui datang menemui Rasulullah s.a.w. seraya menanyakan tentang hari kiamat. Rasulullah bertanya: “Apa yang telah engkau persiapkan untuk hari itu?” Orang Badui itu berkata: “Ya Rasulullah, aku tidak memiliki apa-apa, tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Mendengar itu, Rasulullah s.a.w. menjawab, “Anta ma‘a man ahbabta. Engkau bersama orang yang kaucintai.” (HR Bukhari)

Memang benar, kita selalu bersama dengan apa yang kita cintai. Rasa cinta amat berpengaruh besar terhadap perilaku kita. Kalau seseorang mencintai sesuatu, maka seluruh perilaku orang tersebut akan dipengaruhi oleh sesuatu itu. Jika seseorang mencintai Michael Jackson, maka ia akan mencintai apa saja yang berkaitan dengan artis itu. Ia akan menempelkan gambar-gambar Michael Jackson di kamarnya, dan ia akan membeli semua majalah atau tabloid yang memuat berita tentang Michael Jackson.

Kalau artis yang dicintainya itu tampil di panggung atau tayang di TV, ia akan khusyuk menyaksikannya dan seluruh emosinya akan terbawa di dalamnya. Orang itu akan sanggup begadang semalaman atau bangun di tengah malam hanya karena ia tahu bahwa malam itu akan ada pertunjukan Michael Jackson. Karena ia mencintai Michael Jackson, maka seluruh perilakunya dipengaruhi oleh sepak terjang artis itu; bahkan boleh jadi jiwanya akan beserta jiwa Michael Jackson.

***

Alkisah, suatu hari salah seorang sahabat Nabi Isa a.s. melakukan perjalanan dakwah di sebuah kota kecil. Penduduk kota itu berkumpul di hadapannya. Mereka meminta sahabat Nabi Isa a.s. untuk memperlihatkan mukjizatnya, yaitu menghidupkan orang mati, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Nabi Isa a.s. Demi membuktikan kebenarannya, sahabat Nabi Isa a.s. menuruti permintaan orang-orang itu. Maka pergilah mereka berbondong-bondong ke pemakaman dan berhenti di sebuah kuburan. Sahabat Nabi Isa itu pun lalu berdoa kepada Allah agar mayat yang berada di dalam kuburan tersebut dapat hidup kembali.

Tidak lama kemudian, atas izin Allah, mayat itu bangkit dari kuburnya, melihat ke sekeliling, lalu berteriak-teriak, “Keledaiku! Keledaiku! Mana keledaiku!?” Informasi dari mereka yang mengenalnya menyatakan bahwa semasa hidupnya orang itu sangat miskin dan harta satu-satunya yang paling ia cintai adalah keledainya.

Sahabat Nabi Isa a.s. lalu berkata kepada orang-orang yang menyertainya, ”Wahai saudaraku sekalian! Ketahuilah, bahwasanya kalian pun kelak seperti itu. Pada hari kiamat, kalian akan terbangun dan mencari-cari apa yang selama ini kalian cintai di dunia. Apa yang kalian cintai di dunia ini akan menentukan apa yang akan terjadi dengan kalian pada saat kalian dibangkitkan.”

***

Ketika umat Islam diperintahkan agar mencintai Nabi Muhammad s.a.w., maka itu sama sekali bukan karena Nabi Muhammad membutuhkan cinta umatnya — cinta siapa lagi yang dibutuhkan padahal beliau sudah menjadi Kekasih Allah? Rasulullah s.a.w. menganjurkan kita untuk mencintai beliau, karena bila kita mencintai Rasulullah dengan tulus maka perilaku kita akan sesuai dengan perilaku beliau. Cinta kepada Rasulullah s.a.w. memiliki implikasi yang sangat luas, baik secara teologis, psikologis, sosiologis, maupun secara eskatologis. Dari segi teologis, cinta kepada Rasulullah s.a.w. adalah sebuah prinsip agama; keislaman seseorang juga ditegaskan dengan prinsip kecintaan ini.

Dari segi psikologis, cinta kepada Rasulullah s.a.w. akan berimplikasi pada munculnya semangat untuk mengikuti sunnah dan meneladani akhlak beliau. Dari segi sosiologis, kecintaan kepada Rasulullah s.a.w. menjadi simbol kebersamaan dan kesatuan umat Islam. Sedangkan dari segi eskatologis, cinta kepada Rasulullah s.a.w. akan membawa keberuntungan di akhirat kelak.
Kita sering mendengar khatib atau penceramah berkata bahwa “sebagai umat Islam kita harus mengikuti Sunnah Rasulullah.” Anjuran itu memang benar. Tetapi mengikuti Sunnah Nabi tidak cukup dan tidak bisa diajarkan hanya lewat khutbah. Meneladani Sunnah Rasulullah harus diajarkan lewat pembinaan cinta kepada beliau. Jika kita mencintai beliau, maka secara otomatis kita akan meniru segenap tingkah laku beliau. Karena cinta, kita akan mampu meniru perilaku Rasulullah s.a.w. Kita hanya akan berperilaku seperti Rasulullah bila kita mencintainya.

Cinta itu dapat dibina. Cinta bisa ditanamkan. Salah satu cara menanamkan kecintaan kita kepada Rasulullah s.a.w. ialah dengan berusaha mengenal beliau. Permulaan cinta adalah kenal. Tak kenal maka tak sayang. Kita cenderung mencintai hal-hal yang kita kenal dengan baik. Jika Anda mengenal seekor kucing yang sering datang ke rumah Anda setiap pagi, dan suatu saat kucing itu mati, maka Anda pasti akan merasa sedih.

Kecintaan tumbuh karena kita mengenal. Untuk mengenal Rasulullah s.a.w. kita harus memulai dengan membaca riwayat hidupnya, akhlak, dan perjuangannya. Sejarah Rasulullah s.a.w. pasti menyimpan pelajaran-pelajaran yang sangat berharga, meskipun kita tidak harus mengukur kebesaran Rasulullah s.a.w. hanya lewat sejarah beliau semata-mata. Data sejarah hanyalah sebuah deskripsi lahiriah, sedangkan keagungan Rasulullah justru ada pada maqam (kedudukan) Ilahiyah-nya yang sangat tinggi di hadapan Allah SWT. Bila kita tidak kenal Rasulullah, kita tidak akan menyenanginya. Karena itu, usaha orang munafik dan orang kafir untuk merobohkan tonggak Islam ialah dengan mengasingkan umat Islam dari Rasulullah, atau memperkenalkan Rasulullah s.a.w. sebagai pribadi yang penuh dengan hal-hal negatif supaya cinta kita kepada beliau meluntur atau bahkan sirna sama sekali. Mereka berusaha dengan sistematis untuk mendiskreditkan Rasulullah s.a.w. Karena bila umat Islam sudah hilang kecintaannya kepada Rasulullah, maka runtuhlah seluruh tonggak agama ini.

Mencintai Rasulullah menjadi sebuah keharusan dalam iman. Ia menjadi prinsip, bukan pilihan. Dengan kata lain, mau atau tidak, kita wajib cinta kepada Rasulullah s.a.w. Seorang Muslim harus menyimpan rasa cinta kepada Nabi Muhammad, seberapa pun kecilnya. Idealnya ia mencintainya lebih dari segala sesuatu yang ia miliki, bahkan dirinya. An-nabiyyu aulâ bil-mu’minîna min anfusihim. Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin ketimbang diri mereka sendiri (QS 33: 6). Itulah hakikat iman yang paling sempurna. Itulah sebabnya kita bisa memahami mengapa kecintaan kepada Rasulullah s.a.w. menjadi salah satu asas ajaran Islam yang paling penting. Rasulullah sendiri pernah bersabda bahwa keimanan seorang Muslim harus diukur dengan barometer cintanya kepada beliau: “La yu’minu ahadukum hatta akûna ahabba ilaihi min nafsihi. Tidak beriman seseorang sehingga aku (Rasulullah s.a.w.) lebih ia cintai ketimbang dirinya sendiri.”

Tanpa kecintaan kepada Rasulullah, seluruh bangunan keagamaan kita akan runtuh. Bagaimana kita bisa meniru Rasulullah s.a.w. tanpa didasari rasa cinta kepada beliau? Mustahil bagi kita untuk berperilaku seperti perilaku Rasulullah kalau hati kita tidak terikat kukuh dengan rasa cinta kepada beliau?

Di dunia ini, Rasulullah berfungsi “membumikan” Allah dalam kehidupan manusia. Beliau ibaratnya sebagai zhahir-nya (pengejawantahan) Allah di muka bumi; beliau adalah syâfi‘ (yang memberikan syafa‘at, pertolongan dan rekomendasi) antara makhluk dengan Tuhannya. Kalau Anda ingin merasakan kehadiran Allah dalam diri Anda, maka hadirkanlah Rasulullah di hati Anda. Kalau Anda ingin disapa oleh Allah, maka sapalah Rasulullah s.a.w dengan membaca shalawat. Kalau Anda ingin dicintai Allah, maka cintailah Rasulullah s.a.w. Qul inkuntum tuhib-bûnallâh fat-tabi’ûnî yuhbibkumullâh. Katakanlah: “Kalau kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan cinta kepada kalian…” (QS 3: 31)

Bukankah setiap kali kita mencintai sesuatu maka kita akan mencari tahu segala hal yang berkaitan dengannya. Bahkan mungkin kita ingin menghadirkannya selalu dalam liku-liku hidup kita. Bila Anda mencintai kekasih Anda, misalnya, maka untuk cinta itu Anda akan melakukan banyak hal seperti menyimpan fotonya, pakaiannya, ataupun benda-benda yang berkaitan dengannya, bahkan mungkin ukiran namanya. Cinta memang laksana air mengalir yang memindahkan seluruh atribut sang kekasih kepada kita yang mencintainya. Maka jadikanlah Rasulullah s.a.w. sebagai kekasih sejati Anda.


SEBERAPAKAH RAHMAT DI DIRI ANDA?

Oleh : Ust. Husin Nabil

Kita sering mendengar kata rahmat. Apakah sebenarnya arti rahmat itu? Kata rahmat dalam bahasa Indonesia adalah kata serapan dari bahasa Arab rahmah. Dalam kitab Lisân al-`Arab dijelaskan bahwa sifat rahmah mencakup sifat penyayang, pengasih dan pengampun. Allah memiliki sifat ar-Rahmah, karena Dia Maha Penyayang, Maha Pengasih, dan Maha Pengampun. Di dalam Al-Qur’an disebutkan, “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS al-A’râf [7]: 156) Jika bukan karena rahmat Allah maka kita telah lenyap dari muka bumi ini sejak kita pertama kali melakukan dosa. Namun karena rahmat-Nya Allah SWT berfirman, “Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.’” (QS 39 [az-Zumar]:53)

Read the rest of this entry »


Jajak Pendapat

Apa anda mengetahui acara "Sehari Bersama Rasulullah" yang diselenggarakan oleh KCR & dipandu langsung oleh Haddad Alwi?

View Results

Loading ... Loading ...

Categories

 

February 2008
M T W T F S S
    Apr »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829