Haddad Alwi Membuat Ribuan Warga Palu Menangis
Palu (ANTARA News) - Ustadz Haddad Alwi membuat ribuan warga Palu, Sulawesi Tengah, menangis dalam dzikir akbar yang dilakukannya pada Jumat malam.
Ribuan pengunjung dzikir yang berasal dari seluruh pelosok Kota Palu itu terlihat meneteskan air mata ketika mendengar doa dan tausiah yang diucapkan Ustadz Haddad Alwi. Bahkan suara tangisan kian terdengar jelas ketika lampu ruangan dzikir dimatikan. Saat itu, hanya terdengar suara Haddad Alwi yang mengajak untuk tetap mencintai Allah dan Nabi Muhammad SAW.
Suara musik yang pelan dan lembut menambah suasana kian khusyuk. Pengunjung seisi ruangan menundukkan kepala dan terlihat khusyuk mendengarkan tausiah yang disampaikan Haddad Alwi. Dalam kesempatan itu, Haddad Alwi juga mengajak umat Islam untuk tetap meningkatkan ibadah di sisa bulan Ramadan ini.
“Tingkatkan terus amal ibadah supaya kita termasuk orang-orang yang beruntung dan mendapatkan malam Lailatul Qodar,” tutur Haddad Alwi.
Dzikir itu sendiri berlangsung sekitar 50 menit. Ratusan pengunjung juga tidak sempat memasuki ruangan dzikir karena penuh sehingga mereka terpaksa mengikuti dzikir di pelataran.
Kegiatan tersebut juga dijaga ketat puluhan petugas keamanan. Petugas juga mengamankan arus lalu lintas yang sempat macet akibat banyaknya pengunjung.
Sumber: www.antaranews.com
Haddad Temukan Pengganti Sulis
JAKARTA-Haddad Alwi adalah salah satu ikon dalam ranah musik Islami. Lewat karya-karya fenomenalnya, dia dikenal luas oleh masyarakat, menembus batas geografis, suku, dan bangsa. Selama kariernya di dunia rekaman, dia telah merilis banyak album dengan total penjualan mencapai puluhan juta kopi.
Memasuki bulan suci Ramadan 1430 Hijriyah, Haddad kembali hadir dalam syair-syair yang sarat pujian kepada Sang Khalik dan Rasul-Nya yang dikemas dalam album “12 Lagu Pilihan Haddad Alwi”. Album ini berisikan dua lagu baru dan sepuluh lagu pilihan dari dua album terdahulunya.
Sebagai single unggulan adalah “Marhaban Ya Ramadhan”, sebuah pujian akan hadirnya bulan suci Ramadan. Dia berkolaborasi dengan penyanyi anak-anak bernama Anti. Ditingkahi suara anak-anak kecil, lagu ini terasa sangat membumi dan menyejukkan.
“Pertemuaan saya dengan Anti bisa disebut sebagai suatu berkah. Karena sudah bertahun-tahun saya berusaha mencari penyanyi cilik yang sesuai dengan karakter lagu yang saya bawakan. Karena sejak kemunculan saya dengan penyanyi Sulis dalam ‘Cinta Rasul’ beberapa tahun lalu, saya belum menemukan lagi penyanyi yang pas. Kriteria yang dicari adalah vokal bagus dan background keluarga yang Islami,” tuturnya saat ditemui di kantor Sonny Music, kemarin.
Libatkan Anak
Alkisah, rekan Haddad bernama Anwar Fauzi yang bertindak sebagai arranger lagu “Marhaban Ya Ramadhan” menginformasikan tentang keberadaan Anti. Gadis berusia 10 tahun yang tinggal di daerah Parung, Bogor, itu memiliki vokal yang khas.
Gadis kecil yang ayahnya berprofesi sebagai tukang ojek dan ibunya sebagai pedagang sayur tersebut sejak kecil sudah mengenal lagu-lagu Haddad Alwi. Ia bersama adiknya yang berumur 5 tahun bahkan hapal lagu “Cinta Rasul”.
Haddad yang sudah bergelut dengan industri rekaman selama lebih dari 12 tahun masih memegang teguh konsep akan dakwah melalui lagu. Dia selalu melibatkan anak-anak dalam albumnya.
“Saya prihatin dengan anak-anak sekarang yang sudah jarang mengenal shalawat. Mereka justru fasih menyanyikan lagu-lagu dewasa. Insya Allah album ini menjadi media yang bisa memompa semangat anak-anak untuk kembali bershalawat, sehingga lebih mengenal dan mencintai Allah dan Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.
Selain lagu “Marhaban Ya Ramadhan”, ada juga lagu berjudul “Pergi Haji” (duet dengan Ashilla). Lagu ini menjadi soundtrack film Emak Ingin Naik Haji garapan Mizan Production yang akan ditayangkan Oktober mendatang.
Sumber: Suara Merdeka
KEKAYAAN KITA YANG TERBESAR
Oleh: UST. Husin Nabil
Dalam jasad atau kepompong tubuh kita ini, ada sesuatu yang sangat berharga sekali. Begitu mahalnya hingga itulah satu-satunya modal bagi kita untuk mencapai kebahagiaan. Jika modal ini hilang, maka kita telah menghilangkan segala-galanya. Kita telah membuang percuma kekayaan terbesar yang ingin dimiliki oleh semua makhluk-Nya bahkan para malaikat sekalipun.
Keberuntungan yang akan kita peroleh, jika kita mengolah modal itu, adalah;
- Hidup tanpa kekhawatiran dan cemas.
- Hidup tanpa kesedihan dan gundah.
- Hidup tanpa keserakahan dan ketamakan.
- Hidup dalam kecukupan tanpa pernah merasakan kekurangan.
- Hidup tanpa prasangka buruk dan kebencian serta dalam damai.
- Hidup tanpa egois dan ketidakpedulian.
- Hidup tanpa kebencian terhadap makhluk-Nya dan selalu mendahulukan rahmat.
- Hidup tanpa keraguan dalam melangkah dan bertindak serta berada di shirath-Nya (jalan) yang mustaqim (lurus).
- Hidup selalu bersandar kepada-Nya hingga menemui-Nya
Bayangkan, betapa indahnya dan bermaknanya hidup dengan nilai-nilai di atas. Semua itu bisa terjadi dalam diri kita. Terwujud dalam kehidupan dan muncul di setiap waktu kita. Karena setiap orang dari memiliki pontensi untuk mencapainya. Setiap orang di antara kita tanpa ada perbedaan telah diberi bekal atau modal pokok oleh Dia Yang Maha Kuasa, untuk meraihnya.
Tahukah, apakah modal itu?
Modal berharga itu adalah “Hati” yang ada di dalam diri kita. Hati ini adalah tempat pandangan Tuhan dan cawan untuk mencapai makrifat-Nya. “Sesungguhnya Allah tidak memandang jasad dan paras kalian, tetapi Allah memandang hati kalian.” (HR. Muslim) Bila hati kita telah dijamah-Nya, maka kita berada dalam jalan-Nya. Bila hati kita selalu dalam pandangan-Nya, maka kita berada dalam penjagaan-Nya. Bila hati kita dituangi oleh pengetahuan-Nya, maka kita mengenali-Nya.
Dia Allah berfirman, “Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.” (Qs. al-Infithar [82]: 6) Dia (Tuhan) ingin sekali menjamah, memandang dan menuang pengetahuan ke dalam hati, namun kita membiarkan cawan hati kita terbalik karena keyakinan kita yang bertolak belakang dengan keyakinan kekasih-Nya Muhammad Saw.. Atau membiarkannya berlubang, karena kita sendiri setiap harinya melubangi hati kita dengan banyak maksiat yang dilakukan. Atau mengotorinya dengan banyak najis yang berasal dari penyakit-penyakit hati. Karena semua itu, Tuhan tak menjamah, atau memandang atau menuang pengetahuan-Nya ke dalam hati, kecuali jika kita mempersiapkannya terlebih dahulu.
Bagaimanakah mempersiapkannya?
- Menghadapkan hati kepada-Nya dengan cara menyesuaikan keyakinan dan jalan hidup kita dengan keyakinan dan jalan hidup kekasih Allah, Muhammad Saw.. “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad Saw), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ali Imran [3]: 31)
- Menambal segala lubang hati dengan taubat yang sebenar-benarnya. “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha (taubat yang sebenar-benarnya). Mudah-mudahan Tuhanmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersamanya, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan sebelah kanan mereka, seraya mereka berkata, ‘Wahai Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.’” (Qs. At-Tahrim [66] : 8 )
- Menyucikan hati dari najis penyakit hati dengan mujahadah atau berkorban menundukkan nafsu hewani. “Dan orang-orang yang berkorban untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. al-`Ankabut [29]: 69)
Jika semua itu telah dilakukan dengan tekun dan sabar hingga tunduklah nafsu. Maka tak lama kita akan mendengar seruan-Nya, merasakan pandangan dan jamahan-Nya serta tuangan surga makrifat-Nya. “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai (Nya). Masuklah ke dalam kelompok hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.” (Qs. al-Fajr [89]: 27 - 30) Di saat itu tercapailah kebahagian, kekayaan, yang tak dilihat oleh mata siapapun, tak didengar oleh telinga siapapun dan tak terlintas dalam benak siapapun.
Posted on August 8th, 2008 | By: KCR | Filed under Artikel
NABI MEMBAKAR MASJID
Oleh: Emha Ainun Nadjib
Rasulullah Muhammad s.a.w. pernah memerintahkan sejumlah petugasnya untuk membakar sebuah masjid, karena beliau menemukan bahwa kecenderungan pada “Takmir Masjid” dan komunitas yang melingkupinya membuat masjid itu lebih merupakan tempat kemunafikan dan pemecah-belah kesatuan, dengan berbagai manipulasi dan kemunkaran, sehingga adanya masjid itu menimbulkan mudharat lebih besar dibanding manfaatnya.
Coba kita ambil pelajaran, satu poin saja dulu, dari kejadian itu. Misalnya, tidak bisa kita memahaminya dengan pola pandang modern dengan sistem dan konstitusi kenegaraan seperti yang kita anut sekarang. Di zaman kepemimpinan Rasulullah di Madinah, beliau adalah pusat keadilan, pusat nurani, dan pusat kebenaran, yang dipercaya. Orang percaya sepenuhnya kepada beliau, sehingga beliau diridhai orang banyak untuk menjadi pusat pengambilan keputusan.
Rasulullah bisa disebut diktator atau otoriter andaikata beliau tidak dipercaya rakyat, serta apabila beliau memaksakan suatu keputusan yang umat menilai ada kemunkaran pada keputusan itu. Tetapi belum pernah ada buku sejarah menyebut Muhammad s.a.w. sebagai seorang yang otoriter, karena memang umat percaya dan rela. Padahal secara sistem, konstitusi dan hukum sebagaimana yang kita pahami sekarang, Rasulullah tidak punya hak atau kewenangan untuk mengambil keputusan dan tindakan seperti itu: Rasulullah melanggar HAM dan konstitusi.
Di dunia modern, tidak ada manusia yang bisa dipercaya oleh orang banyak, apalagi dipercaya sampai tingkat, kadar dan cinta masyarakat memercayai Muhammad s.a.w. Kalau orang tidak saling percaya, maka mereka sama-sama berkepentingan untuk membikin aturan, hukum, konstitusi, transaksi, konvensi, atau apa pun namanya dan konteksnya. Orang mendirikan pagar bersama karena dikhawatirkan sewaktu-waktu akan ada, entah siapa, yang melanggar batas. Di zaman ini orang memerlukan perlindungan norma dan hukum, karena sesama manusia tidak ada kemungkinan saling mempercayai dan mempercayakan secara nurani untuk mendapatkan perlindungan satu sama lain.
Anda bisa berkata: “Saya tidak perduli dan tidak mempelajari hukum. Tanpa pasal-pasal hukum pun saya tidak mencuri, tidak akan melakukan korupsi, mo-limo, pembunuhan atau menyakiti orang lain. Kunci-kunci hukum sudah ada dalam kandungan nurani, kalbu dan akal sehat saya. Ada KUHP atau tidak, ada Undang-Undang atau tidak, saya insya allah bisa menjadi manusia yang tidak akan melanggar hakikat hidup manusia yang sejak diciptakan Allah memang wajib saling menyelamatkan, saling menyejahterakan dan saling mencintai.”
Akan tetapi di alam modern sekarang, kalimat Anda itu tidak akan dipercaya oleh siapa pun. Karena manusia modern tidak punya pengalaman menjadi manusia baik dengan hanya berbekal nurani dan akal sehatnya sendiri. Manusia modern tidak melanggar hukum karena takut kepada hukum, bahkan takut kepada polisi. Manusia modern sangat sukar percaya kepada orang baik, karena tidak punya pengalaman otentik untuk menjadi orang baik. Ada sejumlah orang di dunia modern yang benar-benar baik, tapi tak akan diakui sebagai orang baik, karena adanya orang baik pada wacana modern hanya terdapat di masa silam. Orang baik adalah mitos. Kebaikan hanya terdapat dalam mitologi. Sufi, ulama sejati, hanya beralamat dalam khayalan tentang masa silam. Kalau Sufi hidup sekarang, tak akan ada mata, kalbu, dan akal yang menemukan dan mengakuinya sebagai Sufi.
Meskipun Anda benar-benar orang baik, berhasil menolong Raja dan rakyat dari bentrok dan kesengsaraan, bahkan dibantu oleh Allah menerapkan keajaiban sehingga produk Anda tak ada duanya di dunia, jangan berharap dipercaya oleh siapa-siapa. Anda pasti justru dicurigai, disinisi, difitnah, dituduh setan, pengkhianat dan segala kata kutukan lain. Karena Anda memang hidup di tengah manusia modern yang merasa dirinya pahlawan-pahlawan rakyat namun yang otentik dan kongkret pada hidup dan kepribadiannya adalah khianat, sinisme, kecurigaan, buruk sangka, potensialitas setan, pemfitnah. Mereka tidak kenal yang selain fitnah, sangka buruk, kemunafikan, sikap sok pahlawan, yang datang ke rakyat menderita untuk memproklamasikan diri menjadi pembela rakyat, pejuang rakyat, tanpa para rakyat pernah memintanya atau mengamanatinya menjadi pahlawan. Rakyat juga sama sekali tidak punya parameter untuk membedakan mana pejuang mana pedagang, mana pahlawan mana pendusta, atau mana pecinta mana eksploitator (pemeras). Rakyat semacam itu, yang sabar dan tahan memelihara kebodohannya, saya jamin akan terus-menerus sengsara, tak kan pernah memperoleh solusi apa pun atas masalah-masalah mereka. Karena para pejuang yang mendatangi mereka memang tidak pernah punya niat untuk mencari solusi; justru mereka membutuhkan masalah, membutuhkan penderitaan rakyat, demi eksistensi mereka, demi pencarian nafkah mereka: menjual penderitaan orang banyak. Mereka memproklamasikan diri menjadi “Nabi” tanpa ‘nubuwah’. Mengklaim diri sebagai “Rasul” tanpa ‘risalah’. Makanan mereka adalah kepala kosong rakyat yang memelihara kebodohannya. “Masjid” semacam itulah yang dibakar oleh Rasulullah.
Sekarang hal itu tak mungkin terjadi, karena Negara memiliki hukum. Hukum yang memang sangat diperlukan, namun sangat sempit, linier, serta mengandung kebodohan dan bumerang berlimpah-limpah. Tapi silakan Anda percaya atau tidak: “Masjid” itu nanti akan “dibakar”.
(Dikutip dari Harian Surya, edisi 10/11/2007)
Posted on May 3rd, 2008 | By: KCR | Filed under Artikel